Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Senin, Juli 06, 2009

Boediono Ajak Doakan Pilpres Berakhir Damai



04 Juli 2009 21:42 WIB

JAKARTA--MI: Calon Wakil Presiden Boediono mengajak pendukungnya untuk berdoa agar Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 8 Juli mendatang berjalan teratur dan berakhir dengan damai. Hal itu disampaikan Boediono dalam orasinya yang berlangsung lebih kurang 5 menit dalam Kampanye Akbar Pasangan Capres-Cawapres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (4/7).

Selain berharap agar pemilu presiden berakhir damai, Boediono juga berharap siapa pun pasangan yang menang, tidak melecehkan yang kalah. "Mari kita berdoa bahwa yang menang tidak melecehkan yang kalah, yang kalah tidak memusuhi yang menang," katanya.

Imbauan Boediono itu boleh jadi terilhami dari ketidakstabilan politik yang terjadi di Iran paska pemilihan umum presiden yang mengembalikan presiden incumbent Mahmoud Ahmadinejad kepada kekuasaannya. Menurut survei yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei pasangan SBY-Boediono untuk sementara unggul dari lawan-lawannya.

Di hadapan para pendukungnya mantan Gubernur Bak Indonesia itu juga mengatakan bahwa bagi pasangan SBY-Boediono, demokrasi suatu bentuk penghormatan kepada kecerdasan rakyat. Oleh karena itu, kata dia, pasangan SBY-Boediono tidak mau memberi janji-janji yang tinggi. "Kami tidak mau menjual mimpi," katanya.

Menurut dia, rakyat menjunjung kedaulatannya karena menolak untuk dibeli. "Rakyat menunjukkan kecerdasannya karena tidak percaya janji-janji yang muluk," ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa selama ini Indonesia berhasil melalui segala tantangan dan rintangan karena berpijak pada naskah proklamasi yaitu pada kalimat "dengan cara seksama dan tempo sesingkat-singkatnya". Namun, lanjut dia, kepemimpinan yang efektif tidak sama dengan

kepemimpinan yang asal jadi. "Kita perlu kepemimpinan yang efektif yang didukung rakyat," katanya seraya menambahkan bahwa Indonesia perlu pemimpin yang tidak pernah melanggar HAM dan korupsi. (Ant/OL-06)





Bookmark and Share


Berita terkait:



0 komentar:

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP