Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Caleg Stres Pasca Pemilu 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caleg Stres Pasca Pemilu 2009. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 22, 2009

Mendapat 1.000 Suara, Caleg Demokrat Meninggal


Senin, 13 April 2009 | 14:06 WIB

SOLO, KOMPAS.com — Calon anggota legislatif (caleg) Partai Demokrat asal Dapil III Banjarsari, Solo, dengan nomor 5, bernama Sri Sumini umur 52 tahun, sekitar pukul 05.00, Senin (13/4), meninggal dunia di RS Pantiwaluyo, Solo.

"Hari ini juga jenazah almarhum akan dimakamkan di pemakaman umum Solo," kata Joko Suprapto, suami almarhum kepada wartawan di rumahnya di Solo, Senin.

Menyinggung mengenai perolehan suara istrinya yang mencalegkan dari Partai Demokrat, ia mengatakan hanya mendapat dukungan sekitar 1.000 suara dan kemungkinan besar tidak bisa meraih kursi di DPRD Kota Surakarta.

"Istri saya ini sebelum meninggal sebenarnya sudah sakit dulu dan pada kampanye terakhir tanggal 5 April 2009 itu juga sebenarnya sudah sakit, tetapi beliau nekat hadir dalam kampanye," ucapnya.

Menyinggung dalam massa kampanye, Joko Suprapto juga mengatakan bahwa istrinya tidak pernah mengeluh kalau sakit, dan teman-teman juga tidak mengerti kalau saat itu dia sakit.

Setelah kampanye terakhir, almarhum tidak bisa jalan, dan hampir lima hari tidak makan dan minum. Setelah kesehatannya semakin memburuk, almarhum kemudian dibawa ke rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia.

BNJ


Klik selengkapnya...

Satu Caleg Gila, Satu Lagi Setengah Gila


Selasa, 14 April 2009 | 14:35 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com — Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat (BKJM) Kalawa Atei Palangkaraya merawat lima pasien gangguan jiwa pascapemilu 9 April, dua di antaranya merupakan calon anggota legislatif (caleg) dan tiga lainnya simpatisan partai politik (parpol).

"Dampak dari kekalahan dalam pemilu tidak hanya menimpa caleg secara pribadi, melainkan juga dapat terjadi pada simpatisan dan orang terdekat misalnya istri, keluarga dan orang lain yang menjadi pendukung fanatik," kata Kepala BKJM Kalawa Atei Palangkaraya, Wineini Marhaeni Rubay, di Palangkaraya, Selasa (14/4).

Menurut dia, salah seorang caleg datang sudah dalam kondisi gila pada 10 April lalu, dan sempat mendapat perawatan darurat, sebelum akhirnya dikirim ke Yayasan Joint Adulam Ministry, Palangkaraya, tempat penampungan orang-orang "gila".

Ia mengatakan, caleg tersebut diketahui memiliki perilaku aneh pascapemilu, di antaranya tidak mau mandi, tidak mau makan, dan sering tertawa terutama jika melihat hasil penghitungan suara partainya.

Namun, Wineini tidak bersedia menyebut nama caleg dan partainya. Dua pasien lain yang juga berperilaku hampir sama, harus menjalani rawat inap di Kalawa Atei.

"Sedangkan dua pasien lagi, baru sebatas konsultasi mengenai gangguan jiwa. Kami memberi perawatan intensif dengan empat tenaga dokter umum, satu dokter ahli kejiwaan, dua psikolog, dan dibantu sejumlah perawat," katanya.

Ia mengatakan, dari pemantauannya ada tujuh orang yang mengalami gangguan jiwa pascapemilu, dua di antaranya belum mendapat perawatan, yakni satu di Kapuas, dan satu lagi di Palangkaraya yang dirawat di rumah sendiri.

BKJM Kalawa Atei Palangkaraya telah menyiapkan kamar khusus, baik untuk pasien stres ringan maupun stres akut, gila atau psikosis.

Pasien gila secara khusus ditempatkan di dua kamar dengan standar keamanan terjamin, mirip kamar sel berjeruji besi.

"Kamar rawat inap di balai ini terbatas, sehingga apabila jumlah pasien meningkat, kami rujuk ke rumah sakit jiwa di Banjarmasin, Kalimantan Selatan," katanya.

BNJ

Sumber: Kompas

Klik selengkapnya...

Kalah Pemilu, Caleg Golkar Cabuti Tiang Listrik


Selasa, 14 April 2009 | 15:32 WIB

PEKANBARU, KOMPAS.com — Seorang caleg dari Partai Golkar di Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Riau, membongkar kembali tiang listrik bantuannya untuk masyarakat karena perolehan suaranya di daerah tersebut jauh di bawah harapan.

"Ada lima tiang listrik yang dicabut karena perolehan suara Pak Aswin di daerah kami sangat rendah. Ini sangat mengecewakan kami," kata salah seorang tim sukses caleg Golkar tersebut, Ade, di Dumai, Selasa.

Aswin adalah caleg Partai Golkar dari Daerah Pemilihan I Dumai Timur. Menjelang masa kampanye Pemilu 2009, dia memberikan bantuan kepada masyarakat di RT 20 Jalan Sejahtera, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, dengan membangun lima tiang listrik untuk memudahkan pasokan listrik mengalir ke rumah masyarakat.

Menurut Ade yang juga warga RT 20, pemasangan tiang listrik bantuan itu juga berdasarkan kesepakatan bersama (MOU) yang dibuat secara tertulis antara Aswin dan tokoh masyarakat setempat. Menurut dia, berdasarkan MOU ditargetkan perolehan suara untuk Aswin di RT tersebut sebanyak 200 suara, tetapi pada kenyataannya Aswin hanya memperoleh 17 suara.

"Perolehan suara yang sangat minim ini mengecewakan kami selaku tim suksesnya dan Pak Aswin. Itu sebabnya lima tiang listrik yang seharusnya dapat mengalirkan listrik untuk 100 rumah warga kami cabut kembali," ungkap Ade.

Sementara itu, Aswin saat dikonfirmasi membantah dirinya telah memerintahkan pencabutan tiang listrik bantuannya. Ia berdalih pencabutan tiang listrik karena tokoh masyarakat di daerah itu segan dengan dirinya karena perolehan suaranya jauh dari target. "Bantuan yang telah saya berikan itu telah ikhlas saya kasih, saya tidak stres walaupun perolehan suara saya minim," kata Aswin.

WAH

Sumber : Antara/Kompas

Klik selengkapnya...

Wah... Caleg Ditemukan Gantung Diri


Selasa, 14 April 2009 | 19:51 WIB

BANJAR, KOMPAS.com — Calon anggota legislatif Kota Banjar, Jawa Barat, dari Partai Kebangkitan Bangsa nomor urut delapan, Sri Hayati, ditemukan tewas di sebuah gubuk di tengah sawah. Jenazah Sri ditemukan, Selasa (14/4) sekitar pukul 08.00 di Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, atau lebih kurang tujuh kilometer dari rumah mertuanya. Diduga, korban meninggal karena bunuh diri.

Saat ditemukan oleh seorang penyadap nira kelapa, jenazah perempuan yang berusia 23 tahun dan sedang hamil itu tergantung di gubuk dengan jeratan kain kerudung di leher.

Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Lankaplancar Bripka Adung, pada hari Minggu (12/4) malam, korban keluar rumah tanpa sepengetahuan suami dan mertuanya. Bangun dari tidur, Senin (13/4) dini hari, suami korban, Mastur Maulana Yusuf (24), yang mengetahui istrinya tidak ada segera mencarinya. Namun, hingga esok harinya, Sri Hayati tidak ditemukan.

Akhirnya, mertua Sri melaporkan hilangnya Sri ke Polsek Langkaplancar, Senin sore. Pada Selasa pagi, Sri ditemukan sudah meninggal di sebuah gubuk di tengah sawah.

Segera setelah ditemukan, jenazah korban dibawa ke RSU Kota Banjar untuk diotopsi. Seusai melakukan otopsi, dokter forensik di Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSU Kota Banjar, Pardjaman Tojo, mengatakan, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda-tanda perbuatan kejahatan pada korban. "Ada bekas jeratan di leher dan pendarahan di bagian bawah tubuh korban. Korban sedang hamil, kemungkinan janinnya sudah berusia 4-5 bulan," ujarnya.

Bripka Adung menambahkan, di lokasi kejadian tidak terlihat tanda-tanda kekerasan terhadap korban. Polisi sendiri menduga, tindakan Sri Hayati ada kaitannya dengan pencalonan dirinya dalam pemilu.

Berdasarkan hasil penghitungan sementara perolehan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Banjar hingga Selasa siang, Sri hanya mendapat tidak lebih dari 10 suara di daerah pemilihan Banjar I yang meliputi Kecamatan Banjar dan Purwaharja.

Keluarga Sri sendiri tidak ada yang bersedia memberikan komentar lebih jauh atas peristiwa yang menimpa Sri.

Meskipun hasil otopsi dan dugaan polisi mengarah pada perbuatan bunuh diri, tidak diketahui apakah motif perbuatan itu terkait pencalonan korban dalam pemilu atau tidak. Ketua Tanfidz Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Banjar Zaenal Muttaqien menyatakan belasungkawa atas peristiwa yang dialami Sri Hayati.

Zaenal menolak jika kematian Sri terkait dengan minimnya perolehan suara Sri. Sebabnya, partai tidak menuntut sesuatu hal yang berlebihan kepada caleg dalam pemilu karena mayoritas caleg di dapil I adalah pemula dan secara finansial terbatas.

Bahkan, Sri juga selama masa kampanye terbuka dinilai tidak maksimal berkampanye. "Memang tidak kami arahkan untuk maksimal. Sri hanya simpatisan PKB, bukan fungsionaris atau pengurus partai. Awalnya juga dia diajak dalam pencalegan untuk memenuhi kuota 30 persen perempuan. Waktu diajak pun Sri mengatakan bahwa dirinya hanya ingin belajar berorganisasi, menimba ilmu, dan mencari pengalaman," kata Zaenal.


ADH

Sumber: Kompas

Klik selengkapnya...

Cuma Dapat 1 Suara, Organ Bantuan Diambil Lagi


Rabu, 15 April 2009 | 07:42 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com — Kelompok Qasidah Nurul Huda yang bermarkas di Jl Ahmad Yani Lr Riang RT 16 Kel Silaberanti, Palembang, terpaksa urung manggung hari ini. Penyebabnya, alat musik organ elektronik pemberian seorang caleg yang akan digunakan untuk pentas ditarik kembali oleh caleg si pemberi.

“Ini namanya pamrih. Kami kira yang namanya caleg tanpa pamrih,” teriak seorang ibu anggota rebana yang marah karena sikap caleg tersebut.

Caleg yang dimaksud adalah H Fathur Rachman. Fathur adalah caleg DPRD Kota Palembang nomor urut dua dapil empat dari Partai Demokrat. Warga menduga Fathur kecewa karena di TPS RT 16 SU I Palembang ini dia hanya mendapat satu suara.

Seluruh anggota Qasidah Nurul Huda berkumpul di rumah milik ketua mereka, Nacik (57). Rencananya, Selasa (14/4) pagi, merkea hendak membakar 12 rebana pemberian Fathur. Pada sisi kulit rebana tercantum tulisan nama Fathur Rachman yang disablon dengan tinta warna hitam. Namun, rencana aksi pembakaran itu berhasil dicegah Hasan Agus (43), ketua RT setempat.

Ketua kelompok Nurul Huda, Nucik, mengatakan, pembakaran ini terkait kekecewaan mereka terhadap sikap Fathur Rachman yang mengambil organ. Apalagi pengambilan orgen itu tanpa sepengetahuannya. “Kebetulan semua alat pemberian dia disimpan di tempat saya. Waktu itu saya tidak di rumah dan utusan Fathur mengambil organ yang sudah diberikannya,” katanya.

Nucik menyebutkan, Fathur memberikan seperangkat organ dan rebana itu beberapa hari sebelum hari pencontrengan. “Katanya dia memberikan dengan ikhlas. Ini tanda mata darinya,” kata Nucik.

Saat menarik kembali organ yang diberikannya itu, utusan Fathur memang mengatakan hanya meminjam. Namun ternyata sampai Selasa (14/4) organ itu tidak dikembalikan. Nucik mengaku berusaha memegang kata-kata caleg itu. Tapi ternyata omongannya tak bisa dipegang. Saat itu, menurut Nucik, Fathur memberikan alat itu tanpa ada paksaan untuk memilihnya pada hari pencontrengan.

“Silakan ibu mau memilih saya atau tidak. Barang-barang ini saya berikan dengan iklas,” kata Nucik menirukan perkataan Fathur kala itu. Hasan juga menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan warga tidak memilih Fathur di TPS. “Banyak warga yang bingung mencari nama Fathur di surat suara. Itulah sebabnya dia cuma dapat satu suara di TPS RT 16 ini,” kata Hasan.

Hasan meminta Fathur tidak mengambil kembali pemberiannya. Organ pemberian Fathur itu menurutnya sangat dibutuhkan kelompok Qasidah Nurul Huda yang saat ini sedang naik daun dan mendapat banyak pesanan pentas.

Saat wartawan mendatangi markas mereka, ibu-ibu ini tak berhentinya meluapkan kekesalan mereka. Mereka memajang seperangkat rebana itu dan menaruh kartu bergambar Fathur di atas tumpukan rebana pemberian caleg tersebut. (cr3)

Sumber: Kompas

Klik selengkapnya...

Caleg Setengah Gila, Minta Telanjang


Rabu, 15 April 2009 | 15:25 WIB

PURBALINGGA, KOMPAS.com — Wisma Rehabilitasi Mental, Sosial, dan Narkoba yang terletak di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, merawat sembilan pasien baru yang mengalami stres, enam di antaranya caleg yang kalah dalam Pemilu 2009.

"Sembilan orang stres itu berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Pekalongan. Namun maaf, kita tidak bisa menyebutkan identitas mereka, karena ndak etis," kata pengasuh Wisma Rehabilitasi Mental, Sosial, dan Narkoba, Supono Mustajab, di Purbalingga, Rabu (15/4).

Selain caleg, kata dia, di antara sembilan orang pasien baru yang datang pascapemilu itu merupakan tim sukses dan keluarga caleg yang mengalami depresi akibat kekalahan dalam pemilu.

Menurut dia, pasien-pasien baru itu sering kali mengigau minta uangnya yang telah dikeluarkan untuk pemilu dapat dikembalikan.

Bahkan, ada pasien yang selalu ingin telanjang dan ada pula yang diam terus tanpa respons saat disapa. "Mereka saat ini dirawat 11 dokter, dua di antaranya spesialis kejiwaan dan saat ini kondisi pasien mulai tenang," katanya.

BNJ
Sumber : Antara/Kompas


Klik selengkapnya...

Caleg Gila Cantik Ditemani Sumanto Pemakan Mayat


Rabu, 15 April 2009 | 15:34 WIB

PURBALINGGA, KOMPAS.com — Kedatangan sembilan pasien caleg setengah gila di Wisma Rehabilitasi Mental, Sosial, dan Narkoba yang terletak di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, tersebut disambut baik oleh Sumanto.

Masih ingat Sumanto? Sumanto yang pernah mendapat julukan sebagai manusia pemakan mayat itu sekarang bekerja di wisma tersebut. Pria ini dengan tersenyum tampak menemani caleg perempuan setengah gila yang lumayan cantik. "Saya senang bisa menemani mereka karena lumayan cantik," katanya.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, Wisma Rehabilitasi Mental, Sosial, dan Narkoba di Desa Bungkanel, menyiapkan 25 kamar khusus bagi caleg yang stres akibat kalah dalam Pemilu 9 April itu.

Ke-25 kamar yang disiapkan tersebut masing-masing berukuran 3 x 4 meter yang dilengkapi dengan kamar tidur, lemari pakaian, dan kamar mandi.

Kamar yang disiapkan itu terbagi 15 untuk laki-laki dan 10 untuk perempuan, serta keluarga yang menunggunya akan diberi fasilitas tidur dan makan gratis.

Mengenai metode perawatan yang dijalankan, dia mengatakan, para pasien akan ditangani secara medis dan spiritual melalui siraman rohani setiap selesai shalat. Selain itu, dilakukan pula terapi mandi malam, istigasah, dan tahlilan.

Wisma rehabilitasi tersebut saat ini memiliki 300 pasien gangguan mental dan narkoba yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yang 100 orang di antaranya menjalani rawat inap.

BNJ

Sumber : Antara/Kompas



Klik selengkapnya...

Wisma Mustadjab Sudah Menampung 3 Caleg dan 6 Timses


Kamis, 16 April 2009 | 21:27 WIB

Oleh: Madina Nusrat

KOMPAS.com — Cara bicara WSRY (33) masih agak kacau, tetapi dia menyadari apa yang telah dialaminya. "Sudahlah, saya tidak mau mengingat lagi," katanya saat istirahat di Wisma Rehabilitasi Mental Sosial Jiwa dan Narkoba Mustadjab, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Kamis (16/4).

Akan tetapi, akhirnya dia mau bercerita juga, meski enggan melihat lawan bicaranya. Menurut dia, dirinya bisa sampai di wisma rehabilitasi mental itu karena stres gagal terpilih sebagai anggota legislatif dari Partai Gerindra. Namun, dia tak mengingat untuk dewan perwakilan rakyat mana mencalonkan diri. Dia hanya mengaku berasal dari Manado.

Lantas, dia malah bercerita kalau dia ikut jadi caleg karena terbujuk ajakan tetangganya yang disebut 'Om'. "Om minta saya ikut jadi caleg. Saya ikuti. Tetapi akhirnya, dia yang terpilih. Saya gagal," tuturnya.

Saat pertama kali datang, menurut perawat di wisma itu, WSRY masih dalam kondisi terguncang cukup hebat. Berkali-kali dia berorasi layaknya sedang berkampanye, sampai menaiki meja kerja yang ada di wisma. Padahal, dia sedang mengandung dua bulan.

"Jangan lupa pilih saya. Saya siap mengemban amanat rakyat," tutur salah seorang perawat.

Masih di tempat yang sama, seorang tim sukses caleg dari Pekalongan, MR (25), tak memedulikan siapa yang sedang berada di dekatnya. Pandangannya kosong dengan tangan kanan sibuk menyulang makanan ke dalam mulutnya, sementara pelipis mata kanannya lebam.

Lebam di matanya itu akibat dipukuli oleh orang suruhan caleg yang dikampanyekannya. Penyebabnya, MR ketahuan tak menggunakan dana kampanye untuk mengampanyekan calegnya, melainkan untuk kepentingannya sendiri.

Menurut Ketua Yayasan Wisma Rehabilitasi Mental Sosial Jiwa dan Narkoba Mustadjab Supono, ada dua orang caleg lainnya dari Jawa Barat yang mondok di wismanya akibat stres gagal terpilih. Namun, keduanya enggan ditemui orang asing. Begitu juga dengan keluarganya yang menjaga.

Selain merawat tiga caleg yang stres gagal terpilih, Supono mengaku, pihaknya juga sedang merawat enam anggota tim sukses termasuk MR, yang stres karena gagal mengegolkan calegnya terpilih dalam pemilu. "Semuanya dalam kondisi terguncang. Belum ada yang pulih," ucap Supono.

Kesembilan caleg dan tim sukses yang stres itu, lanjutnya, mengalami guncangan kejiwaan yang hebat saat pertama kali masuk ke wismanya, sekitar tiga hari setelah pemilu. "Ada yang teriak-teriak berorasi seperti WSRY, tetapi ada juga yang cuma diam seperti MR," katanya.

Paling hanya kanibalis Sumanto, kata Supono, yang tampak senang dengan datangnya para caleg dan tim sukses yang stres itu. Sebanyak dua dari tiga caleg yang berobat di wismanya adalah perempuan. "Sejak selesai menjalani hukuman, Sumanto tinggal di wisma ini," ujarnya.

Saat dijumpai di kamarnya, Sumanto pun mengaku senang bisa ikut merawat para caleg yang stres. Namun, dia hanya mau merawat para caleg itu di malam hari. "Saya capek kalau siang," ucapnya.

Supono mengaku sangat prihatin dengan nasib para caleg yang gagal terpilih hingga mengidap stres berat. Sebab, dia juga caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa untuk DPRD Purbalingga. Menurut dia, kondisi seperti itu perlu menjadi cermin bagi pemerintah terkait sistem pemilihan umum yang dijalankan sekarang ini.

"Lihat kenyataannya sekarang, sistem pemilihan sekarang malah menyebabkan caleg gagal terpilih jadi pada stres. Anggaran negara pun banyak yang terbuang begitu saja untuk pelaksanaan pemilu," katanya.

Beruntung bagi Supono, akhirnya dia terpilih sebagai caleg dengan suara terbanyak. Kalau gagal, dia mengaku, wisma yang didirikannya pada tahun 1980, dan kini ikut dilengkapi perawatan medis oleh 11 orang dokter, tentu akan menjadi tempatnya dirawat.

"Nek gagal dadi caleg, wisma kiye yah jadi wadahe inyong dewek," ujarnya.

MDN

Sumber: Kompas

Klik selengkapnya...

Caleg Stres Tutup Jalan

Sabtu, 11 April 2009 , 00:12:00

GARUT, (PRLM).-Rekapitulasi suara Pemilu Legislatif (Pileg) 2009 baru saja
berlangsung, namun caleg sudah merasa resah akan raihan suara yang diperolehnya.
Seorang caleg Partai Bintang Reformasi (PBR) daerah pemilihan (dapil) II, Iip,
tiba-tiba menutup badan Jln. Pinggirsari yang menghubungkan Kec. Sukawening
dengan Kec. Pangatikan, Jumat (10/4).

Diduga, dia menggali jalan tersebut sebagai buntut kekecewaan terhadap warga
pemilih karena dirinya tidak dicontreng pada surat suara di sekitar tempat
pemungutan suara (TPS) tempat tinggalnya.

Bahkan, pada malam hari usai penghitungan suara berlangsung, Iip sempat menutup
ruas jalan yang sama dengan batang kayu yang ditempatkan melintang di tengah
jalan. Iip yang bertempat tinggal di Kec. Sukawening marah-marah lantaran
perolehan suaranya yang hanya mencapai 5 suara. Bahkan, TPS di tempat tinggalnya
tidak memperoleh suara.

Kejadian tersebut dibenarkan petugas piket kantor Kec Sukawening, Dindin.
Menurut dia, penutupan jalan dilakukan sesaat setelah dirinya mengetahui hasil
perolehan suara di sejumlah TPS di sekitar kediamannya. "Dia melakukan penutupan
jalan dengan batang kayu sekitar Kamis (9/4) menjelang tengah malam. Bahkan,
pagi tadi, (10/4), dia sempat menggali jalan yang sama," ujarnya.

Sejumlah warga merasa terganggu dengan ulah Iip tersebut, dan segera
melaporkannya ke kecamatan dan kepolisian. Dihubungi terpisah, Kasatreskrim
Polres Garut, AKP Oon Suhendar SH, membenarkan kejadian penutupan jalan yang
dilakukan oleh salah seorang caleg tersebut. Jajaran Polres Garut langsung
mendatangi loaksi kejadian, namun ternyata kasuh tersebut sudah diselesaikan
secara kekeluargaan di Polsek Wanaraja.

"Benar, kami mendapatkan laporan adanya penutupan dan penggalian badan jalan
oleh seorang caleg yang tidak puas. Tapi setelah kita datang itu dapat
diselesaikan di tingkatan polsek secara kekeluargaan," terangnya.

Kapolsek Wanaraja AKP Budiman mengaku tidak dapat memberi keterangan banyak soal
kejadian tersebut. "Saya enggak bisa menanggapi apakah caleg tersebut stress
atau tidak, karena perlu pembuktian secara medis," katanya, ketika ditemui di
kantornya.

Namun, dia mengaku tidak melakukan penahanan terhadap Iip. "Sudah diselesaikan
dengan diberi pengertian, sehingga dianggap kasus ini selesai," ungkapnya.
(A-158/A-50)***

Sumber: groups.yahoo

Klik selengkapnya...

Selasa, April 21, 2009

Caleg Gagal Mulai Tunjukkan Perilaku Agresif

By Republika Newsroom
Kamis, 16 April 2009 pukul 20:37:00

SEMARANG--Pertaruhan calon legislator pada Pemilu 2009 memang amat mahal, karena itu bila tidak bermental baja dan tidak siap kalah, mereka bisa stres, depresi, bahkan agresif.

Perilaku agresif itu ditunjukkan caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Pekalongan, Jawa Tengah, Agus Panut(38), yang menganiaya Suyanto (33), warga Kelurahan Sapura.

Dugaan sementara, pelaku diduga mengalami depresi akibat tidak terpilih sebagai wakil rakyat dalam Pemilu 2009.

Budi Kristanto, kakak pelaku, Kamis, mengatakan, Agus Panut dalam sepekan pekan terakhir ini hanya berdiam diri di dalam rumah.

"Informasi yang kami terima bahwa aksi pemukulan itu diduga akibat korban mengejek pelaku," katanya.

Agus Panut, katanya, semula menargetkan perolehan suara di TPS Kelurahan Sapura, Kota Pekalongan sebanyak 50-100 suara, namun hanya dapat lima suara.

Sebelumnya, perilaku agresif juga ditunjukkan pendukung Sa`diyanto, caleg DPRD Kota Kudus dari Partai Hanura, yang membongkar paksa sejumlah lapak milik pedagang di lokasi Pasar Tiban.

Pembongkaran itu dilakukan karena pedagang dianggap tidak memberikan suara kepada Sa`diyanto, pemilik lahan yang ditempati lapak-lapak pedagang tersebut.

"Perolehan suara ini membuktikan para pedagang pasar yang menempati lahan milik Sa`diyanto tidak mau memberikan dukungannya saat pemilu 9 April lalu," ujar Nur To`at, pendukung Sa`diyanto.

Selain menampakkan perilaku agresif, dari Purbalingga dilaporkan bahwa enam caleg yang gagal menduduki kursi parlemen, juga harus mendapat perawatan kejiwaan di Balai Rehabilitasi Mental dan Sosial milik K.H. Supono Mustajab.

Jumlah caleg gagal yang "bermasalah" diperkirakan bisa terus bertambah karena penghitungan suara oleh KPU masih jauh dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT).

Sementara itu, berdasarkan penghitungan sementara KPU, Kamis pada pukul 14.WIB, PDI Perjuangan masih memimpin perolehan suara sementara di Jateng untuk kursi DPR, disusul Partai Golkar dan Demokrat yang bersaing ketat di posisi kedua dan ketiga.

Meskipun memimpin, perolehan suara PDI Perjuangan pada Pemilu 2009 di Jateng diperkirakan merosot dibandingkan yang dicapai Pemilu 2004, yang menempatkan 31 wakilnya di DPRD Jateng.

Sebaliknya, Demokrat yang pada Pemilu 2004 hanya menempatkan 10 kadernya di DPRD Jateng diperkirakan bakal melonjak menjadi 15 kursi. ant/pur

Klik selengkapnya...

Senin, April 20, 2009

Caleg Alami Stres Pasca Pemilu Legislatif

11 April 2009, 18:16:18, Laporan Iping Supingah

suarasurabaya.net Karena ketidak matangan psikis dan coba-coba membuat calon legislatif yang kemarin maju dalam Pemilu Legislatif mengalami stres, sesudah mengetahui hasil sementara Pileg 9 April 2009.

Dr. DIDIK ARYONO BUDIONO, SpKJ, Kepala SMF Ilmu Kedokteran Jiwa RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan, baru dua hari Pileg selesai ternyata sudah ada beberapa caleg yang stres, bahkan sampai meninggal dunia.

Ini memang sesuai dengan prediksi beberapa pihak, Pemilu Legislatif tahun ini akan ada banyak caleg yang stres. Sebabnya karena mereka mempertaruhkan segalanya seperti keluar modal sampai ratusan juta rupiah.

Dari hasil tes para psikiatri sebagian besar caleg mengaku tidak siap menjadi caleg. Ini karena mereka masih pemula di bidang politik dan dari partai politik yang masih baru, sehingga bursa caleg ini menjadi trial and eror. Tidak hanya yang gagal tapi yang sukses jadi caleg juga bisa stres. Karena dia yang sebelumnya bukan apa-apa dan tidak punya background politik bisa stres karena tidak tahu apa yang dikerjakan selanjutnya.

Ditambahkan dr. DIDIK ARYONO BUDIONO, untuk Pemilu tahun 2014 mendatang supaya tidak ada caleg yang stres, mereka harus belajar politik dulu menjadi anggota partai politik, belajar leadership dan mempersiapkan diri juga keluarganya.(gk/ipg)

Sumber: SuaraSurabaya

Klik selengkapnya...

Siapa Caleg Pertama Stress Pasca Pemilu?

Ditulis oleh Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
pada April 10, 2009

Perhitungan quick count sudah memberikan gambaran secara umum tentang hasil pemilu damai calon legislatif 2009 yang dalan waktu dekat akan diumumkan oleh KPU. Posisi perhitungan terakhir dalam pemilihan umum calon legislatif 2009 masih dikuasai oleh Partai Demokrat yang diikuti di posisi kedua oleh PDI-P dan selanjutnya Golkar, PKS, PAN.

Posisi kedua dan ketiga masih saling diperebutkan oleh Golkar dan PDI-P. Dalam sebuah candaan, seorang rekan mengatakan, ya.. memang sudah diprediksi kalau Golkar akan berada pada posisi 2 atau 3. Kan dari no partainya saja sudah cukup memberikan informasi mengenai hal itu. hahahaha..

Menjelang pengumuman akhir oleh KPU tentunya menjadi momen yang mendebarkan bagi para caleg didaerah maupun di pusat. Para caleg tersebut dengan sangat penuh tanya “Apakah saya terpilih ya…?”, “Kalau tidak terpilih.. gimana bayar hutang buat spanduk, kaos, bayar pendukung, sewa mobil yang harus dibayar akhir bulan ini..?”. Pertanyaan diatas banyak muncul dikepala caleg dan pastinya membuat kepala makin berat kemudian stress.

Siapakah Caleg pertama yang masuk rumah sakit jiwa karena stress..? Didominasi oleh caleg dari partai manakah yang paling banyak mengalami stress dan masuk rumah sakit jiwa…? Kita tunggu saja beritanya dalam minggu ini. Pasti heboh…

Kira-kira menurut anda, sebaiknya para caleg yang stress tadi diapain ya…?



Sumber: Ajimonoarfa

Klik selengkapnya...

Sabtu, April 18, 2009

Caleg Stres dan Stroke Pasca Hari-H Pemilu 2009

30 Januari 2009 oleh Dwiki Setiyawan

Tulisan ringan ini bukan untuk menakut-nakuti dan menciutkan nyali para Calon Legislatif (Caleg) 2009 yang akan berlaga di Hari-H Pemilu Legisltaif pada 9 April 2009. Justru sebaliknya, dimaksudkan untuk membesarkan & menguatkan hati para caleg pada hari-hari ini yang tengah mengimplementasikan segala strategi dan taktiknya di lapangan.

Seperti kita ketahui bersama, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengabulkan uji materi mengenai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Di mana calon terpilih didasarkan suara terbanyak, bukan berdasarkan nomor urut.

Konsekuensi dari keputusan tersebut, partai-partai politik yang belum menerapkan sistem sebagaimana putusan MK di atas agak kelabakan. Lebih-lebih para calon legislatifnya. Mereka yang tadinya sudah melihat di pelupuk mata akan melenggang mulus ke gedung DPR, DPD atau DPRD harus bekerja dan berusaha lebih keras lagi. Sebab apabila bersantai-santai dan sedikit lengah, ‘gajah yang di pelupuk mata’ itu akan menjadi ‘kuman di seberang lautan’ alias ‘bablas’ jatah kursinya. Dengan sistem calon terpilih didasarkan suara terbanyak, maka mau tidak mau dan suka atau tidak suka mengharuskan para caleg rajin menyapa calon pemilih.

Untuk dapat rajin menyapa calon pemilih diperlukan adanya modal atau biaya (pepatah Jawa: jer basuki mawa beo). Sekurang-kurangnya biaya untuk transportasi, telekomunikasi dan akomodasi. Tetapi tidak mungkin kan, setelah caleg bertemu dengan calon pemilih hanya dengan tebar pesona dan janji-janji saja. Dan jauh hari sebelumnya, para caleg pasti telah menyiapkan ‘dana politik’ untuk daerah pemilihannya.

Dana politik yang telah dianggarkan dapat membengkak berkali-kali lipat dari yang diperkirakan sebelumnya. Dana politik itu biasanya dialokasikan untuk transportasi, komunikasi (pulsa handphone/wartel) dan akomodasi, sewa posko, internet (membuat situs/website/jejaring sosial dunia maya), iklan (televisi, radio, media cetak/elektronik/dunia maya), honor team sukses, perizinan-pajak, konsumsi, atribut pemilu dan sebagainya.

Dengan demikian dapat dipastikan, bahwa biaya-biaya politik di atas bisa mencapaai ratusan juta hingga milyar rupiah apabila menjadi calon legislatif DPR atau DPD. Semakin jenjang pencalegan ke bawah, biaya politik juga menurun. Namun tetap tidak bisa dikatakan murah, sekalipun untuk Caleg DPRD Kabupaten/Kota.

Saya jadi membayangkan betapa susah dan sulit serta high cost bagi usaha-usaha para caleg menemui dan bersilaturahmi ke calon pemilih di daerah pemilihan luar Pulau Jawa. Apalagi yang luas dapilnya meliputi satu provinsi, dengan beberapa kabupaten didalamnya. Untuk menyapa calon pemilih di pedalaman Kalimantan Tengah, misalnya, berapa sungai dan anak sungai yang mesti dilewati dengan jarak berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Dari satu pemukiman penduduk ke pemukiman penduduk terdekatnya saja, sudah harus mengeluarkan berliter-liter solar untuk perahu, sampan atau speedboat yang disewanya. Belum biaya lainnya.

Demi untuk meraih suara, banyak caleg di daerah pemilihan dengan pulau-pulau kecil yang sambung menyambung rela berterik-terik matahari dan pasrah diombang-ambingkan ombak. Di Papua, saya dengar dari penuturan seorang caleg DPR-RI yang harus menyewa pesawat kecil untuk menemui calon pemilihnya. Terbang di atas hutan dengan pucuk-pucuk pepohonan menjulang tinggi, mengarungi lembah-lembah dan ngarai serta bermanuver di antara bukit-bukit dan pegunungan. Suatu usaha luar biasa dengan taruhan nyawa didalamnya.

Di atas usaha-usaha kasat mata di atas, tentu banyak caleg yang mengiringi langkah dan manuver Pemilu 2009 dengan restu dan doa. Restu masyarakat, orang tua, sanak keluarga, handai taulan, kyai bahkan paranormal. Bisa jadi pula, hari-hari ini mungkin saja para caleg yang sebelumnya longgar dalam memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa semakin meningkatkan intensitas doa dan ibadah malamnya. Sesuatu yang manusiawi sifatnya.

Berpijak dari pandangan-pandangan yang saya kemukakan di atas, apabila caleg tidak siap menang atau siap kalah, tidak menyiapkan mental baja dan keimanan kokoh, bukan hal mustahil apabila pasca Hari-H Pemilu 2009 mendatang, kita akan baca di media massa ada caleg yang stres dan stroke akibat kegagalan meraih kursi legislatif.

Pada Pemilu 2004, saya mendapat informasi bahwa ada seorang caleg DPR-RI yang dikejar-kejar hutang oleh pengusaha atribut lantaran belum melunasi order pesanannya. Makanya, belajar dari pengalaman Pemilu 2004 banyak pengusaha atribut saat ini yang maunya ‘Cash and Carry’. Kasihan juga ya, sudah kalah dan tidak jadi anggota legislatif masih terbebani lilitan hutang.

Seorang teman berseloroh, bila menjelang Hari-H Pemilu ada caleg yang gemar mendatangi paranormal, bukan mustahil pasca Pemilu Legislatif berganti mendatangi psikiater. Semoga tidak demikian adanya.

Tunggu dulu! Jangan-jangan, sebelum Hari-H Pemilu Legisltif 2009 saja sudah ada Calon Legislatif yang mengalami stres...


Klik selengkapnya...

Merasa Diejek, Caleg Pukuli Tetangga


PEKALONGAN, KOMPAS.com — Seorang caleg di Pekalongan, Jawa Tengah, Agus Panut (38), menganiaya Suyanto (33), warga Kelurahan Sapura, karena pelaku diduga mengalami depresi akibat tidak terpilih sebagai wakil rakyat dalam Pemilu 2009.

Budi Kristanto (43), kakak Agus di Pekalongan, Kamis, mengatakan bahwa adiknya, Agus Panut, dalam sepekan terakhir ini hanya berdiam diri di dalam rumah. "Kami tidak tahu persis adanya pemukulan terhadap Suyanto karena Agus sekarang tidak berada di rumah," katanya.

Menurut dia, peristiwa aksi pemukulan itu terjadi pada Rabu (15/4) sekitar pukul 22.30, saat korban dengan warga lainnya sedang berada di pos keamanan lingkungan setempat.

"Informasi yang kami terima bahwa aksi pemukulan itu diduga akibat korban mengejek pelaku," katanya. Agus Panut, katanya, semula menargetkan perolehan suara di TPS Kelurahan Sapura, Kota Pekalongan, sebanyak 50-100 suara. Namun, kenyataannya kader dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini hanya memperoleh lima suara.

"Kemungkinan kemarahan pelaku terhadap korban akibat sebelum Pemilu 9 April 2009, warga setempat meminta bantuan dana kepada Agus Panut sebanyak Rp 2,4 juta dengan menjanjikan hak suara akan memilih dirinya," katanya.

Suyanto membantah jika dirinya menjelek-jelekkan Agus Panut dan keluarganya. "Sebagai tetangga, kami tidak ada maksud menjelekkan dia. Namun kami tidak tahu, secara mendadak Agus Panut memukuli sehingga kasusnya dilaporkan ke Polsek," katanya.

Kapolsek Pekalongan Barat AKP Sumarjo membenarkan adanya kasus pemukulan yang dilakukan oleh seorang calon anggota legislatif, Agus Panut. "Saat ini, kasusnya masih dalam pemeriksaan polisi dan kami masih memintai keterangan dari sejumlah para saksi," katanya.


Sumber: Kompas

Klik selengkapnya...

Jumat, April 17, 2009

Belasan Caleg Cianjur Diduga Depresi

Rabu, 15 April 2009 19:22 WIB

CIANJUR--MI: Sedikitnya 13 orang calon legislatif di Cianjur diduga mengalami depresi dan sempat memeriksakan diri ke RSUD Cianjur.

"Selama sepekan terakhir, sedikitnya 13 orang caleg, memeriksakan diri ke poli dalam di RSUD Cianjur, dengan berbagai keluhan," kata Direktur RSUD Cianjur dr. Suranto kepada wartawan di Cianjur, Rabu (15/4).

Sebagian besar dari mereka mengalami depresi ringan. Namun dari belasan caleg tesebut tidak ada yang dirawat inap. "Mereka hanya menjalani pemeriksaan atas keluhan sakit. Sebagian besar depresi ringan dan hanya rawat jalan," katanya.

Meski tidak menyiapkan ruangan khusus bagi pasien depresi berat dan ringan, RSUD tersebut menyiapkan satu ruangan isolasi bagi pasien sakit jiwa. "Ruangan tersebut memang sudah ada sejak lama, dimana ruangan itu, dilengakapi fasilitas bagi pasien depresi berat," katanya.

Selain itu, pihaknya telah menyiapkan rumah sakit rujukan bagi pasien depresi berat. RS rujukan tersebut, diantaranya Rumah Sakit Jiwa Bogor dan Rumah Sakit Jiwa Bandung. "Hingga saat ini belum ada pasien caleg yang dirujuk karena depresi berat," katanya. (Ant/OL-06)


Klik selengkapnya...

Caleg Stres Tanggung Jawab Siapa?

April 14, 2009

Hari-hari pasca pemilu 2009, marak di berbagai media yang memberitakan banyaknya calon anggota legislatif yang stres lantaran suara yang mereka dapatkan dalam pemilu legislatif tidak sesuai dengan harapan. Meski saat ini KPU belum menyampaikan data resmi, namun melalui penghitungan cepat atau quick count beberapa lembaga survey menujukkan bahwa banyak partai maupun caleg yang diprediksi tidak akan lolos ke lembaga legislatif.

Karuan saja, para calon anggota legislatif sudah keluar tenaga dan uang banyak untuk mendapatkan simpati masyarakat, namun dalam kenyataannya ketika pemilu digelar masyarakat menjatuhkan pilihannya pada calon lain. Tidak hanya itu, banyak caleg yang telah menghabiskan harta bendanya untuk kampanye pemilu kali ini.

Kalau kita lihat di pemberitaan media, ada saja kejadian yang menimpa caleg pasca pemilu ini. Ada yang meninggal karena stroke atau serangan jantung gara-gara kalah suara, ada juga yang meminta kembali sumbangan yang telah diberikan ketika kampanye, bahkan banyak ditemui caleg-celeg yang masuk rumah sakit akibat gangguan kejiwaan.

Ini menjadi hal yang sangat ironis karena para celeg ini lebih siap untuk menang ketimbang siap untuk kalah. Besarnya beban baik moral, material bahkan rasa malu di masyarakat menjadikan banyak caleg menjadi stres.

Anggota legislatif adalah sebuah jabatan politik sebagai sebuah kepanjangan tangan partai dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah melalui lembaga legislatif. Tiga fungsi yang diemban lembaga legislatif adalah fungsi legislasi (pembuat undang-undang), fungsi kontrol atau pengawasan dan fungsi budget atau anggaran, selain itu fungsi lainnya adalah sebagai lembaga penyerap aspirasi.

Jika para caleg ini memahami benar apa yang menjadi tugas dan fungsi legislator, maka yang seharusnya ada di benak mereka tentang jabatan sebagai anggota legislatif adalah sebuah pengabdian kepada bangsa dan bukan sebuah jabatan untuk mendapatkan kekuasaan dana banyak materi. Tapi mungkin pandangan ini ada benarnya, karena karena selama ini banyak anggota legislatif yang lebih mengedepankan mendapatkan materi ketimbang menjalankan tugas-tugas sebagai seorang legislator. Ini yang harus segera dibenahi.

Dengan harapan mendapatkan keuntungan bak sebuah investasi, para caleg dengan gelap mata mempertaruhkan segala harta benda untuk mendapatkan posisi tersebut. Tentu jika mendapatkan kursi empuk tersebut, maka modal yang telah dikeluarkan bisa dikembalikan. Namun, ketika harapan itu sirna, maka ganguan jiwalah yang mereka dapatkan.

Tanggung Jawab Partai Politik

Calon anggota legislatif bisa mendaptkan nomor urut karena direkut oleh partai politik. Beberapa alasan partai politik melirik caleg yang bersangkutan karena memiliki kapasitas, kualitas bahkan karena popularitas. Namun, beberapa caleg memberanikan diri untuk mendaftar ke partai politik dengan berbagai alasan, diantaranya ikut merubah nasib bangsa, hanya sekedar coba-coba sampai hanya untuk memenuhi kuota tertentu.

Lolos tidaknya caleg bisa ikut dalam pemilu adalah wewenang partai politik. Partai politik merasa diuntungkan dengan banyaknya caleg yang ada karena dipastikan akan bekerja keras untuk mendapatkan suara bagi caleg yang bersangkutan dan tentunya untuk partai. Namun sayang, partai politik terkesan hanya memanfaatkan si caleg tanpa diberangi dengan pemahaman yang jelas tentang apa maksud dan tujuan dari pencalegan ini. Bahwa, jabatan legislator adalah sebuah amanah dan pengabdian yang membutuhkan keiklasan dalam berjuang.

Partai politik seharusnya juga memberikan pemahaman kepada caleg agar harus benar-benar rasional dalam mengeluarkan dana dan meteri. Selain itu, parpol juga harus memberikan pemahaman terhadap peta politik kepada para celegnya, sehingga mereka bias menghitung kalkulasi menang atau kalahnya dalam pemilu. Ini penting karena banyak caleg yang sama sakali tidak tahu menahu tentang peta politik dan prediksi terhadap parpol yang bersangkutan.

Namun apa mau dikata, ibaratnya nasi sudah menjadi bubur. Karena ketidaktahuan dan kenekatan para caleg, kini mereka harus menderita karena beban yang mereka pikul terlampau berat. Untuk itu, kini saatnya partai politik ikut andil dama membina kembali para celeg yang telah berjuang untuk partainya. Jangan hanya mengambil untung dari para caleg, namun disaat mereka membutuhkan bantuan, para pengurus parpol seakan tutup mata dengan keadaan ini.

Parpol harus memberikan dukungan dan bimbingan moral kepada para caleg yang gagal bahwa jabatan sebagai anggota legislative bukanlah satu-satunya jalan untuk mengabdi. Masih banyak lahan untuk memberikan darma bhaktinya untuk ibu pertiwi ini.


Klik selengkapnya...

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP