Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Pasca Pilpres 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasca Pilpres 2009. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 19, 2009

SBY Kirim Utusan Temui Mega

Rabu, 19/08/2009 20:01 WIB

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews

Jakarta - Menjelang penetapan kabinet hasil Pilpres 2009, SBY terus melakukan komunikasi politik dengan para rivalnya. Malam ini SBY mengirim orang kepercayaannya yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrat Hadi Utomo dan Ketua FPD Syarief Hasan ke rumah Megawati di Jl Teuku Umar, Jakpus.

Pantauan detikcom, rombongan Hadi Utomo tiba di kediaman Mega sekitar pukul 19.20 WIB. Hadi dan Syarief yang mengenakan kemeja batik ini langsung disambut hangat oleh Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo dan Sekjen DPP PDIP Pramono Anung.

Sementara di dalam rumah sudah menunggu Megawati yang ditemani Taufiq Kiemas dan beberapa pengurus DPP PDIP. Tidak ada wawancara sebelum utusan SBY ini bertemu Megawati dan Taufiq karena keduanya langsung masuk setelah menjawab pertanyaan wartawan sekenanya.

"Ini silaturahmi biasa saja," kata Hadi menjawab pertanyaan wartawan yang mencecar maksud tujuannya datang ke rumah Mega, Rabu (19/8/2009).

Saat didesak apakah kedatangannya terkait jatah menteri yang akan diberikan SBY kepada PDIP dan pos ketua MPR untuk Taufiq Kiemas, dengan singkat Hadi mnejawab, "Ohh ... nggak," jawabnya langsung masuk ke dalam rumah Mega.

(yid/lrn)


Sumber: detikNews



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Jumat, Juli 10, 2009

Kekalahan JK Tanggung Jawab Semua Kader Golkar


Jumat, 10/07/2009 18:19 WIB

Elvan Dany Sutrisno - detikPemilu

Jakarta - Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Iskandar Mandji menilai kekalahan pasangan JK-Wiranto dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 kemarin sangat dipengaruhi oleh prilaku elit Partai Golkar sendiri. Ketidaksolidan para elit memenangkan JK merupakan faktor penentu terpuruknya perolehan suara JK-Wiranto.

"Saya bingung, kenapa elit dan kader Golkar tidak punya kebanggaan ketua umumnya maju sebagai capres. Padahal moment ini sejarah bagi Golkar. Malah beberapa elit partai ini ke sana kemari nggak punya komitmen," kata Iskandar kepada detikcom, Jum’at (10/07/2009).

Menurut orang dekatnya JK ini, semua kader Golkar harus bertanggungjawab atas kekalahan JK-Wiranto ini. Sangat tidak fair dan rasional jika kekalahan calon Golkar dalam pilpres kemarin hanya dibebankan kepada JK semata.

"Pak JK itu sudah mengeluarkan dana besar untuk membiyai partai. Beliau sudah berkorban materi dan moral untuk menjaga partai ini. Seharusnya kader Golkar angkat topi memberikan penghargaan, bukan mencaci dan menghakiminya," pintanya.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto ini menambahkan, manuver sejumlah elite Golkar yang akan menggelar musyawarah nasional luar biasa (munaslub) atau munas dipercepat cukup mempengaruhi psikologi kader Golkar. Akibatnya, perolehan suara JK anjlok dalam pilpres.

"Saya kira semua kader harus ikut bertanggungjawab atas kondisi Golkar saat ini. Kalau kita kompak, saya kira tidak bakal kita kalah seperti ini," pungkasnya.

Meskipun tidak menyebut nama, politisi asal Makassar itu sepertinya ingin menyindir gerakan Triple A (Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Agung Laksono). Hal ini disebabkan karena Triple A sudah sejak lama disebut-sebut menggalang kekuatan ke daerah-daerah untuk agenda munas dipercepat.

Konsolidasi itu dilakukan dalam rangka mengegolkan agenda pengantian JK dan mereformasi kepengurusan Golkar dengan komposisi ketua umum, Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung sebagai ketua dewan penasehat dan Agung Laksono sebagai sekretaris jenderal DPP Partai Golkar.

( yid / ndr )



Sumber: detikPemilu



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Hasil Sementara Penghitungan Suara Pilpres 2009


Hasil Sementara Pilpres 2009
versi Komisi Pemilihan Umum (KPU)






Sumber: detikNews



Hasil Sementara Pilpres 2009
versi Quick Count





Sumber: detikNews




Hasil Sementara Pilpres 2009
versi Metro TV dan KPU












Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Aburizal Bakrie Calon Kuat Ketum Partai Golkar


Jumat, 10 Juli 2009 | 17:32 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Tingkat I Sulawesi Tenggara (Sultra) Ridwan Bae memastikan bahwa kandidat calon ketua umum DPP Partai Golkar yang terkuat dalam musyawarah nasional (munas) dalam waktu dekat ini adalah Aburizal Bakrie, yang juga Menko Kesra.

Setidaknya, Ical—begitu ia akrab dipanggil—didukung oleh lebih dari 500 DPD Tingkat I Provinsi dan Tingkat II Kabupaten. Pesaingnya yang kuat disebut-sebut Surya Paloh, Ketua Dewan Penasehat (Wanhat) Partai Golkar.

Menurut Ridwan Bae, yang ditanya pers seusai bertemu dan makan siang bersama dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Muhammad Jusuf Kalla dan jajaran pengurus Partai Golkar lainnya di Istana Wapres, Jumat (10/7), meskipun diakui jarang turun ke bawah (akar rumput) di daerah, diakui Aburizal Bakrie mempunyai kedekatan dengan seluruh kader.

"Dia juga punya pengalaman yang bisa dipertanggungjawabkan, selain juga memiliki integritas dan keikhlasan terhadap organisasi," tambah Ridwan.

Ridwan mengatakan, "Ditambah satu lagi, dia tak ingin menawarkan diri untuk duduk di kabinet dan dia hanya mau berkonsentrasi diri untuk sepenuhnya pimpin Partai Golkar."

Bantah Ical didukung SBY

Ditanya, apakah dukungan dari 500 DPD Tingkat I dan Tingkat II ke Ical karena adanya politik uang, Ridwan membantah. "Bang Ical tidak datang bawa-bawa uang, akan tetapi datang membawa program dan janji kemajuan masa depan," tangkisnya.

Ditanya lagi mengapa Ical yang diakui jarang turun ke daerah, tetapi bisa didukung oleh banyak daerah, Ridwan berkata lagi, "Itu karena spontanitas yang datang dari berbagai kabupaten dan provinsi. Bahwa ada kelompok tersendiri yang melakukan komunikasi, itu bukan hal yang mustahil."

Ridwan juga membantah kalau Ical yang berpeluang jadi ketua umum (ketum) Partai Golkar didukung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, menjawab pertanyaan pers, Ridwan mengakui, posisi Akbar Tandjung sebagai ketua wanhat Golkar, Ical ketum Golkar, dan Agung Laksono sebagai sekjen Partai Golkar.

Sementara itu, diperoleh informasi, pesaing lainnya yang akan maju adalah Kalla sebagai ketua wanhat, Surya Paloh ketum Golkar, dan Siswono Judohusodo sebagai sekjen.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Munas Golkar, Lebih Cepat Lebih Baik


Jumat, 10 Juli 2009 | 17:42 WIB

BATU, KOMPAS.com - Gubernur Provinsi Gorontalo Fadel Muhammad mengaku kecewa dengan hasil yang diperoleh Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla sebagai calon presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, sejauh yang tampak dari hasil quick count, yang menempatkan pasangan JK-Wiranto pada posisi buncit atau ketiga. Fadel setuju, perlunya Musyawarah Nasional (Munas) yang dipercepat, untuk membahas kepemimpinan Jusuf Kalla.

Percepatan Munas lebih cepat lebih baik, kata Fadel kepada wartawan yang mencegatnya seusai beribadah shalat Jumat di Masjid An Nur, Jumat (10/7). Fadel hadir di Malang juga untuk memberikan kuliah kepada mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang. Ia berada di Batu, ditemani Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Seusai shalat ia memberikan ceramah bagi PNS di lingkungan Pemkot Batu.

"Saya kecewa dan sedih, karena hasilnya (perolehan pasangan JK-Win pada Pilpres 2009) lebih rendah dibanding perolehan suara Parta Golkar dalam Pemilihan Legislatif," katanya.

Padahal, sambungnya, Pilpres kali ini Partai Golkar berkoalisi dengan Partai Hanura, sehingga seharusnya perolehan suara Pilpres lebih tinggi daripada hasil Pileg. Menurut Fadel, pihaknya minta seyogianya Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar melakukan penelitian kenapa perolehan suara pasangan Capres-Cawapres yang diajukan koalisi Partai Golkar bisa teramat rendah. Kita perlu evaluasi lagi, supaya Golkar ke depan jangan semakin hancur," katanya.

Ditanya tentang kemungkinan penyelenggaraan Musyawarah Nasional sebagai evaluasi atas hasil Pilpres, Fadel menjelaskan, Munas ini dulu dijanjikan oleh Jusuf Kalla kalau tidak terpilih. "Munas, janjinya Pak JK sendiri. Untuk membicarakan ini minggu depan akan ada Rapimnas, ini akan dibicarakan, lihat hasilnya Rapimnas," katanya.


ODY


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Yuddy: Tidak Ada Munaslub


Kamis, 9 Juli 2009 | 17:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Golkar, Yuddy Chrisnandi, beranggapan bahwa musyawarah nasional luar biasa (munaslub) yang bisa diselenggarakan untuk menggulingkan Jusuf Kalla dari kursi ketua umum tak mungkin dapat dilakukan, apalagi jika mendengar kabar bahwa munaslub dipercepat dari waktu yang seharusnya pada bulan Desember.

Menurut Yuddy, saat ini pimpinan pusat Golkar justru sedang mempersiapkan musyawarah nasional yang sedianya akan diselenggarakan pada bulan Oktober, bertepatan dengan ulang tahun Golkar. "Tidak ada dasar yang cukup logis menurut aturan dan juga kecukupan waktu untuk menyelenggarakan munaslub," ungkap Yuddy yang menjabat sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto.

Namun, ada masukan baru yang berkembang dalam rapat persiapan munas yang dihadiri oleh para petinggi Golkar, antara lain Jusuf Kalla, Soemarsono, Agung Laksono, dan Fahmi Idris. "Berkembang usulan soal perkembangan munas bahwa munas ditetapkan oleh rapimnas. Dalam rapimnas baru ditemukan jadwal munas berlangsung. Jadi tidak ada munaslub," ucap Yuddy di Posko Mangunsarkoro, Kamis (9/7).

Yuddy menegaskan kepada seluruh kader Golkar di Indonesia bahwa momen yang akan mereka siapkan ke depan bukanlah munaslub, melainkan munas. Alasannya, ungkap Yuddy, antara lain munaslub baru bisa dilakukan jika ketua umum dinilai telah melanggar AD/ART atau atas permintaan lebih dari 50 persen DPD.

Oleh karena itu, menurut Yuddy, pelaksanaan munaslub itu tidak memiliki dasar, baik dari segi alasan, maupun waktu persiapannya. "Saya berkeyakinan, seluruh pimpinan Golkar adalah orang-orang yang taat asas dan loyal kepada organisasi daripada pada ambisi-ambisi pribadi. Munas akan dilaksanakan sesuai jadwal," tandas Yuddy.


LIN


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Wacana Munaslub Golkar Terlalu Dini Dibicarakan

Kamis, 9 Juli 2009 | 08:37 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Wacana Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar dinilai masih terlalu dini untuk dibicarakan karena Pemilihan Umum Presiden 2009 baru saja berlangsung kemarin, Rabu (8/7). Hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun belum dikeluarkan.

Hal ini disampaikan Wakil Bendahara Umum DPP Partai Golkar Poempida Hidayatulloh dalam pesan singkatnya, Rabu malam. "Tidaklah beralasan dan terlalu dini, jika ada DPD Partai Golkar yang menyuarakan Munaslub, karena proses perhitungan suara belum berakhir," ungkap Poempida.

Pasca pencalonan diri Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla menjadi calon presiden, berembus kabar penyelenggaraan Munaslub segera dari internal Golkar jika pria asal Sulawesi Selatan ini gagal meraih tampuk kekuasaan istana.

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei hingga H+1 Pilpres ini, posisi JK-Wiranto masih berada di posisi juru kunci setelah SBY-Boediono dan Mega-Prabowo. Poempida berharap semua kader Golkar tidak mudah terprovokasi oleh hasil hitung cepat yang disebutnya hanya bersifat indikasi dan tidak mengikat.

"Perlu saya ingatkan kembali bahwa quick count tersebut pasti bermasalah, karena DPT bermasalah belum 100 persen diperbaiki. Laporan mengenai orang yang tidak memilih pun belum jelas. Kita tunggu saja laporan dari KPU untuk menyikapi semua ini," tandas Poempida.

Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Alasan Kalah Pilpres Tidak Relevan Dorong Munaslub Golkar

Jumat, 10 Juli 2009 | 13:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kegagalan ketua umum dalam membawa partai menang dalam pemilu legislatif atau pemilu presiden dinilai tidak cukup menjadi alasan yang signifikan untuk mendorong diselenggarakannya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar hanya mengatur bahwa Munaslub dapat diselenggarakan jika terdapat kader yang melakukan pelanggaran berat atau pidana, terjadi perpecahan dalam partai atau terdapat pelanggaran terhadap AD/ART partai. Persyaratan lainnya, jika Munaslub diusulkan oleh lebih dari dua pertiga dari anggota.

Hal ini disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Syamsul Ma'arif kepada Kompas.com, Jumat (10/7), menanggapi wacana Munaslub untuk menggeser Jusuf Kalla dari Ketua Umum Golkar menyusul indikasi kekalahan pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto dalam Pemilu Presiden 2009. "Kalau kalah itu dijadikan alasan untuk mengadakan Munaslub, itu tidak relevan," tutur Syamsul.

Namun, ungkap Syamsul, akan berbeda jika memang diusulkan lebih dari dua pertiga jumlah anggota. Itu pun, tegasnya, tetap harus disertai alasan yang masuk akal untuk menyelenggarakan Munaslub.

Dijelaskan, berdasarkan hasil Rapimnas terakhir, Partai Golkar akan mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) di bulan Desember dengan didahului Musyawarah Daerah di masing-masing wilayah di sekitar bulan Agustus. "Tapi kalau mau Munas dipercepat bisa. Hanya saja, kalau daerah-daerah mau begitu, ya harus Rapimnas lagi sebelumnya," tandas Syamsul.


LIN


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Golkar Masih Berduka, Keputusan Oposisi Nanti Dulu



Jumat, 10 Juli 2009 | 12:14 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Golkar masih berduka atas kekalahan sementara pasangan capres dan cawapres yang diusungnya, Jusuf Kalla dan Wiranto, berdasarkan sejumlah hasil quick count terhadap Pemilu Presiden 2009 Rabu lalu.

Oleh karena itu, pembicaraan terkait posisi partai berlambang pohon beringin ini dalam pemerintahan ke depan belum menjadi prioritas utama saat ini. "Belum ada pembicaraan. Kita masih berduka begini, jadi ke sananya belum terpikir," tutur Wasekjen DPP Partai Golkar Iskandar Mandji kepada Kompas.com, Jumat (10/7).

Iskandar memastikan nantinya pasti akan ada pembicaraan soal posisi Partai Golkar. Namun, ia mengatakan, keputusan untuk menjadi oposisi atau tidak merupakan keputusan yang sulit sehingga Partai Golkar tidak akan terburu-buru dalam memutuskannya. "Kita perlu merenung dulu, bukan sikap yang mudah untuk memutuskan itu," ujar dia.

Iskandar membantah bahwa keputusan terakhir ada di tangan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum yang masih menjabat. Keputusan tertinggi, lanjut Iskandar, ada di tangan musyawarah pimpinan dan anggota. "Pak JK bukan orang yang mau mengambil keputusan sendiri," tandas Iskandar.


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Partai Golkar Harus Belajar Jadi Oposisi


PASCAPILPRES


Jumat, 10 Juli 2009 | 05:32 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Penasihat Partai Golongan Karya, Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan, Partai Golkar kini perlu belajar menjadi partai oposisi. Pilihan menjadi oposisi tetap terhormat dan membawa manfaat besar bagi proses demokratisasi dan kepentingan rakyat.

”Toh jadi oposisi juga bisa memberikan keseimbangan yang baik untuk masyarakat. Selama oposisi lemah, mungkin ada sesuatu yang kurang menguntungkan untuk masyarakat. Balance itu penting,” ungkap Sultan, Kamis (9/7) di Yogyakarta.

Menurut dia, Partai Golkar selama ini memiliki kemampuan sebagai partai pemerintah dan ikut berkuasa. Itu berarti Partai Golkar pun seharusnya bisa menjadi partai oposisi. ”Tidak mesti harus berkuasa,” ungkapnya.

Sultan juga mengingatkan agar jajaran Partai Golkar tidak mencari kambing hitam atas kekalahan Jusuf Kalla-Wiranto. Partai Golkar harus tetap kompak dan jangan terjadi saling sikut di internal partai. ”Kalau memang kalah, ya kalah. Jangan cari kambing hitam,” ungkapnya.

Terkait munculnya isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar untuk mengganti JK, menurut Sultan, itu bertujuan mendelegitimasi Partai Golkar untuk kepentingan-kepentingan perebutan kekuasaan di organisasi Partai Golkar. ”Saya tidak setuju dengan cara begitu,” ujarnya.

Tak ada munaslub

Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla bersama pimpinan DPP lainnya, Kamis di Posko Mangunsarkoro, mulai membicarakan persiapan Munas Partai Golkar. Topik ini dibicarakan terkait adanya upaya sejumlah kader Golkar yang mendorong dilaksanakan munaslub dalam waktu dekat.

Hal itu disampaikan Ketua Departemen Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan Partai Golkar Yuddy Chrisnandi. Rapat informal, antara lain, dihadiri Jusuf Kalla, Wakil Ketua Umum Agung Laksono, Sekjen Soemarsono, dan anggota Dewan Penasihat Fahmi Idris. ”Jadi, tidak ada munaslub. Yang ada adalah munas rutin yang diselenggarakan pada saat ulang tahun Partai Golkar setiap Oktober,” kata Yuddy.

Fahmi Idris mengakui adanya pihak-pihak yang sejak awal pencalonan capres hingga kampanye mempersiapkan munaslub. ”Banyak yang menjadi kandidatnya untuk menjadi pimpinan Partai Golkar. Yang saya tahu berminat adalah Aburizal Bakrie serta beberapa orang lagi,” ungkapnya.

Fahmi juga mengungkapkan, Partai Golkar sulit menjadi partai oposisi karena sejarah dan karakter Partai Golkar yang sudah lebih dari 30 tahun. ”Dulu saya pernah mencoba mengusulkan Partai Golkar menjadi oposisi, tetapi tidak bisa,” ujarnya.

Koalisi berubah

Pagi harinya, Agung Laksono menyebutkan, kelanjutan keberadaan Partai Golkar dalam koalisi besar termasuk salah satu materi evaluasi pasca-Pemilu 2009. ”Keputusan Partai Golkar bisa berubah, tergantung kepemimpinan partai,” kata Agung.

Agung mengakui, ada sebagian yang menyuarakan penyelenggaraan munaslub, tetapi pihak pengurus pusat Partai Golkar belum merapatkannya. Yang pasti, katanya, kekalahan Partai Golkar dalam pemilu legislatif dan pilpres akan dievaluasi. Agung mengakui mesin parpol tidak berjalan sebagaimana mestinya, baik di pusat maupun di daerah.

Tak sampai ke rakyat

Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit menilai kekalahan JK-Win akibat ide dan program-program yang disampaikan pasangan ini tidak sampai ke masyarakat kecil yang berpendidikan di bawah SMP. Padahal, jumlah pemilih kelompok ini mencapai 80 persen dari total pemilih.

Dari aspek kultural, lanjut Sukardi, sebagian besar pemilih yang beretnis Jawa dan Sunda juga masih melihat penampilan fisik pemimpin sebagai laki-laki yang gagah dan berwibawa.

Kondisi itu diperparah dengan kegagalan tim sukses JK-Win menyampaikan ide-ide pasangan itu ke masyarakat, sementara mesin politik Partai Golkar tak solid dan terpecah-pecah.

Kecewa, tetapi menerima

Meskipun kecewa, masyarakat Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, daerah kelahiran calon presiden Jusuf Kalla, bisa menerima hasil hitung cepat raihan suara untuk Kalla dalam pilpres Rabu lalu dengan berbesar hati.

”Pastilah sangat kecewa. Namun, di balik itu ada kebanggaan bahwa sudah ada orang Bugis yang berani tampil bersaing meraih kursi Presiden RI. Apa pun hasilnya, kami hanya bisa pasrah dan berbesar hati. Tentu kita masih tetap menunggu hasil KPU,” kata Abdul Latif (69), teman masa kecil JK.

Hal senada dikatakan Abdul Rahman (50), pedagang di Pasar Lama Watampone. ”Yang saya tidak sangka hanya satu putaran. Tadinya saya berpikir pilpres dua putaran,” katanya.

Menyusul anjloknya suara Partai Golkar di 15 kabupaten/kota dalam pilpres 8 Juli lalu, Pelaksana Tugas Ketua Partai Golkar Sulawesi Utara Max Lumintang meminta diberhentikan dari jabatannya. Permintaan itu ia sampaikan kepada Jusuf Kalla melalui telepon, Kamis.

Lumintang mengatakan, kekalahan telak pasangan JK-Win di Sulut cukup memalukan bagi jajarannya, khususnya di kabupaten-kabupaten yang dikenal sebagai lumbung suara Golkar.

Lumintang menduga suara JK-Wiranto digembosi sejumlah kader partai di kabupaten/kota untuk melemahkan posisi dirinya sebagai pelaksana tugas. ”Saya bilang kalau tidak suka sama saya berhentikan saja, tapi jangan permalukan Pak JK,” katanya.

(DIK/SEM/REN/ZAL/RWN/MZW)
Sumber : Kompas Cetak


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Sultan: Tidak Usah Cari Kambing Hitam


Kamis, 9 Juli 2009 | 22:22 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, Sultan Hamengku Buwono X, mengingatkan jajaran Partai Golkar untuk tidak mencari kambing hitam atas kekalahan calon presiden yang diusung Partai Golkar, Jusuf Kalla, pada Pilpres 8 Juli 2009. Sultan juga mengingatkan elite Partai Golkar harus tetap kompak dan tidak saling sikut sendiri agar tidak merugikan rakyat.

"Kalau memang kalah, ya kalah. Enggak usah cari kambing hitam," ungkap Sultan saat ditanya wartawan tentang munculnya isu mengganti Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla karena kekalahan telak dalam Pemilu Presiden 2009, Kamis (9/7) di Yogyakarta. Menurut Sultan, jika terjadi saling sikut di internal organisasi partai, ujung-ujungnya adalah untuk kekuasaan saja.

"Karena itu, justru ini akan merugikan rakyat. Ya memang pilihan masyarakatnya ke SBY, faktanya kan itu, ya sudah," ucapnya.

Jika saat ini sudah muncul isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar untuk mengganti JK, menurut Sultan, bertujuan mendelegitimasi Partai Golkar untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan saja di Golkar. "Kalau saya tidak setuju dengan cara begitu," ungkapnya.

Sultan menilai masih terlalu dini untuk mengatakan, salah satu pasangan capres-cawapres sudah menang. Sebab, penghitungan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum selesai. Keputusan akhir penghitungan tetap berada di KPU.

Lebih lanjut, Sultan mengatakan, dalam negara demokrasi, kekalahan dalam pilpres adalah wajar. Karena itu, Partai Golkar tidak masalah jika nanti memutuskan menjadi partai oposisi setelah kalah dalam pemilihan legislatif dan pilpres. Pilihan oposisi tetap baik dan pilihan terhormat. Namun, Sultan menyerahkan sepenuhnya pilihan sikap Partai Golkar ke depan kepada pengurus partai Golkar. "Kalaupun jadi oposisi tidak masalah, wong ini demokrasi," katanya.

Menurut Sultan, faktor utama kekalahan pasangan JK-Wiranto bukan akibat partai. Sebab, pilpres berbeda dengan pileg. Dalam pileg, peran partai sangat besar. "Partai ini kan sebetulnya bukan faktor utama. Rata-rata capres punya tim sukses sendiri, pada waktu aktivitas kampanye kan tidak pakai seragam partai karena ini bukan pileg," katanya.

Figur capres juga menentukan pilihan masyarakat. Menurut Sultan, kampanye yang dilakukan pasangan JK-Wiranto sebenarya sudah berjalan dengan baik. "Ya memang pilihan masyarakatnya ke SBY, faktanya kan itu," ungkapnya.


RWN


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Sultan: Golkar Sebaiknya Jadi Oposisi


Kamis, 9 Juli 2009 | 19:41 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Erwin Edhi Prasetyo

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Menyusul kekalahan calon presiden Partai Golongan Karya, M Jusuf Kalla, dalam pilpres, anggota Dewan Penasihat Partai Golongan Karya, Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan bahwa Golkar kini perlu belajar menjadi partai oposisi. Pilihan menjadi oposisi tetap terhormat dan membawa manfaat besar bagi proses demokratisasi dan untuk kepentingan rakyat.

"Toh jadi oposisi juga bisa memberikan keseimbangan yang baik untuk masyarakat. Selama oposisi lemah kan, mungkin juga ada sesuatu yang kurang menguntungkan untuk masyarakat. Balance itu kan penting," ungkap Sultan HB X, Kamis (9/7) di Yogyakarta.

Sultan mengemukakan, Partai Golkar selama ini memiliki kemampuan sebagai partai pemerintah dan ikut berkuasa. "Itu berarti, Partai Golkar pun seharusnya bisa menjadi partai oposisi. Tidak mesti harus berkuasa," ungkapnya.

Berdasarkan hasil quick count meski ini belum perhitungan final, menurut Sultan, perolehan suara pasangan JK-Wiranto jelas di bawah target 30 persen. Itu menunjukkan indikasi adanya persoalan di Partai Golkar. Karena itu, Golkar harus melakukan introspeksi bahwa untuk membangun negara ini tidak hanya Golkar lagi yang bisa. "Yang lain toh bisa juga, ya kan. Bagi saya itu alat introspeksi Golkar bagaimana menghadapi 2014," katanya.

Sultan meminta pihak yang kalah dalam pilpres bisa menerima kekalahan dengan kebesaran jiwa. Sementara itu, pemenang jangan sombong karena kemenangan adalah amanah rakyat yang harus dijalankan. Sultan menilai masih terlalu dini untuk mengatakan salah satu pasangan capres-cawapres sudah menang. Sebab, penghitungan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai kini belum selesai. Keputusan akhir penghitungan tetap berada di KPU.



Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Soal Posisi Golkar ke Depan, Beda Pendapat Sah-sah Saja


Jumat, 10 Juli 2009 | 14:14 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com
Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Partai Golkar Syamsul Maarif menegaskan, hingga saat ini Partai Golkar belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait sikap partai pascapelaksanaan Pilpres 2009.

Sejumlah pernyataan yang beredar di media, ditegaskannya, merupakan pendapat pribadi, bukan pendapat partai. "Itu kan baru pendapat tapi kalau tanya Golkar, belum (ada). Biarkanlah perbedaan pendapat, tapi nanti musyawarah yang menentukan," tutur Syamsul kepada Kompas.com, Jumat (10/7).

Ketika ditanyakan pendapatnya secara pribadi terhadap pernyataan Sultan Hamengku Buwono X dan Fahmi Idris yang mengatakan bahwa Golkar tidak terbiasa beroposisi, Syamsul enggan berkomentar. "Itu yang saya menghindar. Saya lebih pada menjaga aturan organisasi," lanjut Syamsul.

Ia mengatakan, Golkar masih menunggu hasil penghitungan suara resmi yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) meskipun diakuinya, penghitungan sementara memang mendekati kebenaran. Saat ini, tim masih fokus untuk mengevaluasi jalannya penyelenggaraan Pemilu Presiden 2009.

Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Golkar Boleh Merapat, tetapi Jangan Ganggu Power Sharing

Jumat, 10 Juli 2009 | 16:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai partai yang telah terbiasa berada di lingkaran kekuasaan, kecil kemungkinan bagi Partai Golkar menjadi oposisi. Kemungkinan Golkar akan merapat ke kubu pemenang Pilpres 2009 pun masih terbuka.

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfud Siddiq mengatakan, pihaknya tidak akan mempermasalahkan jika hal itu terjadi, asalkan tidak mengganggu proses pembagian kekuasaan (power sharing) yang telah disepakai antarpartai koalisi pendukung SBY.

"Kemungkinan itu (Golkar merapat ke koalisi) bisa terjadi, asalkan jika mereka merapat tidak mengganggu power sharing yang sudah disepakati," katanya seusai acara diskusi di DPR RI, Jakarta, Jumat (10/9).

Secara pribadi, Mahfud menilai, saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Partai Golkar untuk menjadi oposisi, bersama dengan PDI Perjuangan. Sebab, menurutnya, jika Golkar dan PDI-P bergabung menjadi oposisi di parlemen, maka fungsi oposisi sebagai pengontrol pemerintah akan efektif.

Mengenai pembagian kekuasaan di pemerintahan antarpartai koalisi pendukung SBY, ia mengaku bahwa hal itu baru akan dilakukan setelah KPU secara resmi mengumumkan hasil Pilpres 2009. Karenanya ia berharap pembagian kekuasaan tersebut bisa dilakukan secara profesional.

"Dan kalau ada partai lain yang mau bergabung, itu diambil dari profesional," tandasnya.


C10-09


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Kalla "Ngantor" Lagi di Istana Wapres


Jumat, 10 Juli 2009 | 15:31 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jumat (10/7) siang, mulai ngantor lagi di Istana Wapres, Jakarta. Namun, meskipun berkantor, hingga pukul 15.00, relatif tidak ada kegiatan yang penting yang dilakukan Kalla. Ia hanya menandatangani sejumlah surat-surat dinas.

Sebelumnya, Kalla menunaikan shalat Jumat di Masjid Baitulrahman di lingkungan Istana Wapres. Ia ditemani oleh Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud, yang juga adik iparnya, serta sejumlah pengurus Partai Golkar seperti Ferry Mursidan Baldan, Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Tenggara Ridwan Bae, dan Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan Ryaas Rasyid.

Belakangan, datang pula menemani Kalla, yaitu Ketua DPP Partai Golkar Rully Chairul Aswar dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Nasional Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi.

Kemarin, sehari setelah pilpres, Kalla memilih tinggal di rumah dinasnya sambil menerima laporan sejumlah Deputi Wapres dan menandatangani surat-surat dinas, selain memimpin rapat evaluasi hasil pilpres sebagai capres bersama cawapres Wiranto. Pada malam harinya, ia menyampaikan uneg-unegnya kepada para senior editor.


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

PKS Berharap Jatah Menteri Lebih dari Tiga

Jumat, 10 Juli 2009 | 17:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berharap mendapatkan lebih dari 3 kursi menteri dalam kabinet pemerintahan Presiden SBY yang akan datang. Hal ini didasarkan pada pertambahan jumlah kursi yang didapatkan PKS di DPR RI periode 2009-2014. "Saat ini jumlah kursi kita di DPR ada 45 kursi dan kita dapat 3 kursi menteri, dan di periode 2009-2014 kita dapat 57 kursi, dan logikanya kursi kabinet juga bertambah, tidak hanya 3 kursi, tapi lebih," kata Ketua DPP PKS, Mahfud Sidiiq di DPR RI, Jakarta, Jumat (10/7).

Ia mengaku, saat PKS melakukan kontrak politik mendukung SBY menjadi capres di Pilpres 2009 beberapa waktu yang lalu, PKS telah mengajukan 8 nama kader PKS untuk dipilih SBY mengisi posisi menteri di kabinet yang akan datang, dan mengenai siapa yang akan dipilih, PKS menyerahkan sepenuhnya kepada SBY. "Dari 8 orang itu ada nama pak Tiffatul Sembiring, Hidayat Nur Wahid, Irwan Prayitno," katanya.

Meski demikian, ia mengaku, PKS tidak meminta jumlah kursi menteri tertentu kepada SBY. Namun ia berharap pembagian tersebut dapat dilakukan secara profesional. "PKS berharap pembagian itu dilakukan secara profesional berdasarkan power sharing dari partai koalisi," katanya.


C10-09

Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP