Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Caleg Artis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caleg Artis. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 22, 2009

Caleg Artis Harus "Cuci Otak" Sebelum ke Senayan


Selasa, 14 April 2009 | 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyaknya calon anggota legislatif berlatar belakang artis yang dipastikan bakal melengang ke Senayan, membuat miris sejumlah pakar politik meskipun hal itu harus diakui sebagai bentuk pilihan masyarakat atas sistem suara terbanyak dalam pemilu kali ini. Dunia selebriti dengan dunia politik sangat berbeda sehingga harus ada perubahan cara pandang artis yang duduk ke kursi dewan.

Hal itu disampaikan peneliti senior LIPI, Syamsudin Haris, dalam diskusi politik di arena tabulasi penghitungan KPU di Hotel Borobudur. Dia meminta, sebelum dilantik sebagai wakil rakyat, para caleg terpilih yang latar belakangnya artis harus di-training terlebih dahulu oleh partainya. Dengan harapan, mereka bisa menjalankan tugasnya secara maksimal mengemban amanat masyarakat yang memilihnya.

"Mereka harus di-upgrade terlebih dahulu, baik oleh partai yang mengusung dia, maupun ikut pelatihan sendiri mengenai tugas dan kapasitas dia sekarang ini. Bukan lagi sebagai artis, melainkan sebagai wakil rakyat," terangnya.

Sejumlah artis yang saat ini suaranya tinggi dan dipastikan bakal melenggang ke Senayan antara lain Mandra dan Primus Yustisio. Karena kepopuleran di layar kaca dan keseriusan dia menggalang massa, dari hasil penghitungan yang dilakukan KPU saat ini, mereka memperoleh suara cukup gemilang.

Masih menurut Haris, jika tidak melakukan pelatihan atau training terlebih dahulu, Caleg terpilih yang berlatar belakang artis tersebut juga bisa menggunakan tim asistensi yang bisa menunjang dia melaksanakan tugasnya sebagai wakil rakyat. Dengan demikian, saat berada di Senayan, mereka tidak bengong dengan dunia mereka yang baru dan benar-benar berbeda dari dunia yang digeluti selama ini.

Mereka harus mengakui, antara dunia politik dan dunia hiburan atau selebriti sangat berbeda, apalagi ketika berada di Senayan harus memperjuangkan kepentingan masyarakat secara nasional.

"Mereka harus menyadari perbedaan itu untuk bisa terus berlatih dan belajar. Jika tidak, maka sangat bahaya. Mereka di Senayan hanya bengong saja melihat para senator lain berdebat dan sibuk menyiapkan program untuk masyarakat. Untuk, tugas partai politik sangat penting untuk memberikan latihan terhadap mereka yang memiliki latar belakang selebritis tersebut," tukasnya.

Hal senada dikatakan pengamat politik Yudi Latief. Menurutnya, selain bisa berpolitik, para anggota DPR tersebut juga harus memiliki kemampuan membuat peraturan perundang-undangan karena hal itu akan menjadi acuan bagi pemerintah dan masyarakat. Artinya, jika peraturan tersebut dibuat oleh orang-orang yang tidak paham dan mengerti pembuatan perundang-undangan, maka peraturan tersebut tidak akan bisa dijalankan di masyarakat.

"Yang agak berat tugas mereka membuat undang-undang. Dan hal itu harus dijalani para senator nanti. Makanya, perlu pelatihan pendidikan politik, pendidikan hukum khususnya pembuatan undang-undang bagi caleg yang asalnya dari selebriti," urainya.

Pasalnya, mereka harus menyadari. Saat ini, tugas mereka di Senayan nanti bukan menghibur, melainkan menyelesaikan persoalan secara kolektif bagi masyarakat secara umum. Pengetahuan terhadap kebijakan dan kemampuan memberikan analisis terhadap persoalan sangat diharapkan. Dengan harapan, kebijakan yang akan diambil nanti bukan malah menyiksa masyarakat karena salah memberikan analisis.

coi



Klik selengkapnya...

Sabtu, April 18, 2009

Meutya Hafid Nyaris Sundul Burhanuddin

Sabtu, 18 April 2009 | 16:40 WIB

TEMPO Interaktif, Medan: Dua calon legislator dari Partai Golkar, Burhanuddin Napitupulu dan pendatang baru Meutya Viada Hafid, hanya berselisih 436 dalam memperoleh suara sementara di Daerah Pemilihan I Sumatera Utara. Adapun Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring, mendulang 5.127 suara dari daerah pemilihan yang sama.

Berdasarkan data tabulasi KPU Sumatera Utara yang dipantau Tempo, Sabtu (18/4), Burhanuddin unggul dengan perolehan 2.515 suara, sedangkan mantan presenter Metro TV Meutya menyusul dengan mengumpulkan 2.079 suara. Sejak awal kampanye, kedua kader Golkar ini terus bersaing.

Sebelum pencontrengan, wartawan yang pernah disandera di Irak itu sempat direpotkan oleh hasil survei internal partainya, yang memiliki dua versi. Menurut perempuan 31 tahun ini, survei periode Januari – Maret 2009 ia berada di peringkat pertama.

Namun, seorang petinggi partai gerah dengan hasil itu. Lembaga survei yang disewa lantas mengubah posisi Meutya ke nomor dua. Ketika hal itu ditanyakan, Meutya tak memperoleh jawaban yang berarti. Di daerah pemilihan yang meliputi Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Kota Tebing Tinggi, Meutya harus bertarung melawan sejumlah politikus kawakan. Selain seniornya Burhanuddin Napitupulu ada juga bekas wartawan, yaitu Panda Nababan dari PDI Perjuangan.

Sementara itu, mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Chairuman Harahap, berada di posisi teratas perolehan sementara Partai Golkar di daerah pemilihan Sumatera Utara II dengan mengantongi 6.241 suara, sementara mantan Panglima Kodam I Bukit Barisan, Tritamtomo Danuri, di posisi teratas PDI Perjuangan di daerah pemilihan Sumatera Utara III dengan 2.781 perolehan suara.

Tak hanya calon legislator yang tak bermasalah yang memperoleh suara, calon legislator yang telah meninggal dunia dan berperkara hukum juga memperoleh suara. Seperti almarhum Abdul Azis Angkat, mantan Ketua DPRD Sumatera Utara yang meninggal dalam aksi demo maut, turut mendulang suara. Almarhum hingga Sabtu sore memperoleh 232 suara.

Sementara tersangka demo maut, G.M. Chandra Panggabean berada di posisi pertama dari Partai Peduli Rakyat Nasional untuk daerah pemilihan Sumatera Utama I. Chandra mengumpulkan 415 suara. Ketua KPU Sumatera Utara Irham Buana Naasution mengatakan suara yang diperoleh Abdul Azis Angkat akan diserahkan kepada partainya (Golkar).

Adapun suara Chandra hingga saat ini belum ada masalah, karena yang bersangkutan belum menjadi terpidana. "Andai terpidana, kami serahkan kepada partainya," ujar Irham. Sumatera Utara mendapatkan jatah 30 kursi untuk DPR RI.

SOETANA MONANG HASIBUAN

Klik selengkapnya...

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP