Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Potensi Mei 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Mei 2009. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 02, 2009

INILAH SISWA-SISWI HARAPAN BANGSA DENGAN SEGUDANG PRESTASINYA

Paul Zakharia Fajar Hanakata

Peraih Medali Perak APhO 2009
Peraih Medali Emas OSN Bidang Fisika OSN 2008

Biodata
Tempat/Tanggal Lahir : Denpasar, 19 Desember 1991
Alamat Rumah : Jalan Antasura Perumahan Lembah Pujian NoA20
Email : paul_teensbreakthrough@hotmail.com
Sekolah : SMA Negeri 1 Denpasar XII IPA 9
Cita – cita : Engineer
Hobi : Belajar fisika, maen dota, futsal
Motto Hidup : Selalu melihat ke depan dan jangan pernah menyerah
Target Universitas : ITB (Fisika sudah di terima) S2 di Amerika
Motivasi Prestasi : Memuliakan Tuhan


My Family
Ayah/Pekerjaan : Yohanes Hanakata/ Arsitek
Ibu/Pekerjaan : Enny Indrawati
Jumlah Saudara : 3
Anak Ke : 2

About Me
Tokoh Idola : Jesus Lord of War
Makanan Favorit : Yang pedas
Minuman Favorit : Mix Juice
Genre dan Lagu Favorit : Pop
Words About Me : Miracle
Talenta : Maen Futsal
Acara TV Favorit : Pertandingan Bola
Film Favorit : Lord of The Ring
Buku Favorit : Bible, buku Fisika
Makna Hidup : Bagi saya, life is a war

Aout TOFI
Kenapa Pilih Fisika : Karena suka, kemudian saya ingin memuliakan Tuhan lewat fiska. Saya ingin sekolah di Amerika khususnya di bidang FIsika
Kesan Ikut APhO : Sangat menyenagkan karena ketemu dengan orang dari berbagai Negara, menegangkan
Feel Dapat Medali APhO : Seneng banget, mengucap syukur pastinya, kaget

Prestasi
Medali Perak APhO 2009 Thailand
Medali Emas OSN 2008
Medali Emas Physic Competition Universitas Undiksa 2008
Best Theory Physic Competition Universitas Undiksa 2008




* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ni Luh Christina Prapmika Jayanti


Duta Anak Indonesia Bidang Pendidikan tahun 2006 - 2008



Biodata
Nama : Ni Luh Christina Prapmika Jayanti
Tempat/Tanggal Lahir : Badung, 8 April 1992
Alamat Rumah : Jl. Bunut Sari, Janji Inn, Legian Kelod, Kuta, Bali
Email : titin_cabi@yahoo.co.id
Sekolah : SMA Negeri 1 Denpasar
Cita – cita : Diplomat
Hobi : Menari, nyanyi, broadcast, model, baca
Motto Hidup : SMANGAT!!!
Target Universitas: UGM
Motivasi Prestasi : Potensi diri, keluarga, orang – orang terdekat

My Family
Ayah/Pekerjaan : I Wayan Janji / Wiraswast
Ibu/Pekerjaan : Ni Made Nur Budiyanti / Wiraswasta
Jumlah Saudara : 3 orang
Anak Ke : 1

About Me
Tokoh Idola :
Makanan/Minuman Favorit : Balinese Food
Genre dan Lagu Favorit : R n B, POP, Rock
A Word About Me : energetic
Talenta : nyanyi, nari, presenter, akting / teater
Acara TV Favorit: Negeri Impian
Film Favorit : Titanic
Musik Favorit : Pop
Buku Favorit : Amazing stories for teen, Aku terlahir 500 gr dan buta
Makna Hidup : Hidup adalah memperbaiki karma. Kita terlahir ke dunia untuk
memperbaiki kesalahan – kesalahan pada kehidupan yang lampau. Jadi tiap kesempatan dalam hidup ini lakukanlah dengan hal yang baik.

Pengalaman dan Prestasi
1. Duta Anak Indonesia Bidang Pendidikan tahun 2006 - 2008
2. Finalis Pemimpin Muda Indonesia 2008
3. Runner Up I Jegeg Bagus Badung tahun 2008
4. The Best Presenter Hindu tahun 2009
5. Juara Umum Reportase Pensi Telkomsel se Bali Nusra tahun 2006
6. Juara I Speech Contest
7. Harapan I Lomba Baca Berita Tingkat SMA se Bali
8. Juara III Bintang Pelajar tahun 2007
9. Juara II Pembawa Acara Anak – Anak Citra Prestasi Bali TV tahun 2004
10.Juara II Lomba Busana Adat Bali
11.Juara II Lomba Tari Tenun
12.Juara II Pidato Bahasa Indinesia se Bali

Kegiatan yang pernah diikuti
1. Konggres Anak Indonesia tahun 2006 dan 2008
2. Forum Anak Nasional tahun 2008
3. Seleksi ASE & SYC tahun 2009
4. Ketua Presenter Muda Hindu tahun 2009
5. Sekretaris Forum Anak Daerah Bali tahun 2006 – 2009



Sumber: Potensi


Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Minggu, Mei 31, 2009

Pelajar Indonesia Raih Satu Emas Tiga Perak IYIPO

LIPUTAN POTENSI




Minggu, peserta International Young Inventors Project Olympic (IYIPO) tiba dari Tbilisi, Georgia. Peserta yang terdiri dari Putut Dipa SMA Semesta Semarang, Muttaqin Huda SMA Semesta Semarang, Ridho Assidicky SMAN Sragen Bilingual Boarding School, Muhammad Masruh Bardhowi SMPN 2 Watumalang Wonosobo, Muhammad Royyan SMAN Sragen Bilingual Boarding School, dan Rahmat Hidayat SB dari SMA Pribadi Depok, berhasil meraih satu emas dan tiga perak di ajang olimpiade tersebut.

Menurut ketua tim Zafer Kulas dari Pribadi Bilingual Boarding School, keikutsertaan tim Indonesia di ajang ini merupakan peluang yang sangat bagus untuk lebih mengenalkan kemampuan siswa-siswa Indonesia di lomba sains Internasional. “Dengan perolehan satu emas dan tiga perak, bisa dikatakan titik cerah untuk melangkah ke depan. Lomba ini adalah event yang penting. Dengan total persiapan selama tujuh bulan, para peserta mampu memberikan yang terbaik. Sebelumnya, kami telah melakukan seleksi di Indonesia, pemenang dari seleksi tersebutlah yang berangkat ke Georgia. Di Georgia kami melatih mereka selama dua bulan. Dan, tim kami telah memberikan hasil yang cukup memuaskan. Perolehan medali ini sekaligus merupakan jalan yang mulus bagi kami untuk mengikuti ajang-ajang internasional selanjutnya. Menurut saya, negara yang cukup tangguh sebagai lawan dalam ajang ini adalah Jerman dan Turki. Mereka telah menyiapkan diri dengan matang.” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kasim Uludag, Head of Mathematics Department dari Pasiad Bilingual Boarding Schools menjelaskan, dalam empat tahun terakhir ini, Pasiad telah bekerja sama dengan International Young Inventors Project Olympic. Beberapa waktu lalu, ia dan departemennya telah mengikutsertakan siswa Indonesia untuk ikut kompetisi di Amerika. Di sana mereka memperoleh satu emas, serta satu perak. “Kami mencoba untuk ikut lomba-lomba di tingkat internasional lagi. Kami berkompetisi hingga ke Bosnia, Brasil, Amerika, Rumania, Azerbaijan, dan Istambul. Di ajang IYIPO ini, kami ikut lomba fisika, biologi, kimia, dan matematika. Seorang peserta asal Sragen memeroleh satu emas dan peserta lain memeroleh medali perak. Kegiatan ini merupakan hasil seleksi ketat dari seluruh SMA yang ada di Indonesia. Ini peluang yang bagus, dengan demikian para peserta juga akan memperoleh beasiswa dari berbagai universitas yang ada di seluruh dunia. Jika mereka memeroleh medali emas, mereka bisa kuliah di universitas Turki, Ankara. Di sana ada Technology University yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Kalau mereka berhasil masuk seleksi, mereka akan diberi beasiswa dengan bebas biaya seratus persen. Mulai dari makan, hingga tempat tinggal juga tidak dipungut biaya.” jelasnya.

Sebagai peserta, Muhammad Royyan menganggap ajang ini awal langkahnya untuk mengenalkan hasil penelitiannya di dunia internasional. Siswa SMAN Sragen Bilingual Boarding School, memilih bidang studi matematika sebagai bahan acuan yang ia ikut sertakan pada lomba tersebut. Judul penelitiannya Generation Function. Menurutnya, lawan yang ia rasa paling berat berasal dari Turki.

Rekan Royyan, Rahmat Hidayat SB dari SMA Pribadi, Depok, Jawa Barat, juga mengambil bidang studi matematika. Hasil penelitiannya pun sama, Generation Function, ia mengubah kombinarotika ke persamaan aljabar, dengan begitu ia merasa lebih mudah untuk menemukan problem solving-nya. “Nanti kita arahkan ke aljabar, dari situ kita bisa menemukan jalan keluarnya. Lawan yang saya rasa berat dari Turki, mereka pintar-pintar.” tambahnya. Kedua peserta bidang studi matematika ini memperoleh medali perak di ajang IYIPO, Georgia.

Sedangkan peraih medali emas bernama lengkap Ridho Assidicky dari SMA Sragen Bilingual Boarding School, mengambil bidang studi biologi di lomba ini. Subyek penelitiannya berjudul potensial onaminalvens. Prinsipnya, tanaman itu memiliki potensi untuk meredam kebisingan. Menurut Ridho, juri terkesan dengan hasil penelitiannya dan dianggap bisa diaplifikasikan di negara mana saja. Siswa sederhana ini menganggap Azerbaijan dan Georgia adalah lawan yang cukup diperhitungkan.

Tidak jauh berbeda dengan Ridho, Muttaqin Huda, siswa SMA Semesta Semarang ini, meneliti hormon dari kelompok oxin. Dalam penelitiannya ada hormon IAA, yang bisa mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Penelitian yang dilakukannya selama 8 bulan, dirasakannya cukup memadai dan sesuai dengan medali perak yang diraihnya. Dalam lomba kali ini, Huda merasa peserta dari Indonesialah lawan terberatnya. Itulah kiprah pelajar-pelajar Indonesia di ajang kompetisi sains tingkat internasional. Dengan medali yang mereka peroleh, semakin mengukuhkan bahwa keberadaan mereka di lomba ini tidak lagi dianggap sebelah mata. Selamat! (Fanny)


Sumber: Potensi


Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Workshop Pembina OSIS

"Siap Membina Siswa, Menghadapi Tuntutan Zaman"
Keterangan foto: Kepala Dinas Pendidikan Bukittinggi, Sumatera Barat,
ketika membuka acara Workshop Pembina OSIS.

(Foto: Abdul Haris Monoarfa)

Potensi Volume XI No. 3, Mei-Juni 2009
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan salah satu unsur penting dalam menunjang lancarnya proses belajar mengajar di sekolah. Melalui OSIS program-program baik ekstrakurikuler maupun intrakurikuler, berjalan seirama dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman,
kondusif dan penuh semangat.

Melihat begitu pentingnya kegiatan OSIS, pada April 2009, bertempat di Hotel Pusako, Buktitinggi, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas melaksanakan Workshop Pembinaan Kesiswaan. Workshop ini bertujuan untuk menyusun Panduan Teknis Pembina OSIS Sekolah Menengah Atas, dan merupakan penjabaran dari pedoman pembinaan kesiswaan yang telah disusun sebelumnya. Workshop ini juga merupakan tindaklanjut dari kegiatan sebelumnya, yaitu Rapat Kerja Pembina Kesiswaan yang telah menghasilkan Pedoman Pembinaan Kesiswaan untuk Sekolah Menengah Atas.

Memiliki Materi yang Matang
Dalam kata sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat, Drs.Burhasman, MM, mengatakan sekolah sebagai salah satu tempat untuk mempersiapkan diri secara intelektual, emosional, dan sosial, sebaiknya memiliki materi yang matang. “Kita melihat kelak para siswa kita akan hidup pada zaman yang tidak mudah, mereka akan hidup pada zaman yang penuh dinamika, penuh tantangan, penuh konflik. Mereka dituntut harus bisa membekali diri untuk mengisi solusi-solusi kehidupan nantinya. Nah, oleh karena itu peran kegiatan kesiswaan dalam menjembatani dan mengenalkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi sangat diperlukan.” Ujarnya.

Itu sebabnya, demikian Burhasman kembali, ketika Permen Diknas No 39 tahun 2008 ditetapkan, di sana ada komponen yang bisa dijadikan binaan kesiswaan, dan bisa dikembangkan ke dalam berbagai hal. Di sinilah peran pembina OSIS sangat
besar. Dengan adanya kegiatan ini, sebagai pembina OSIS diharapkan mampu menghadapi tantangan, persoalan, dan kompetisi. Melalui kegiatan ini pula para pembina bisa memberikan warna pada para siswa. Jika tidak, dalam posisi sebagai guru maupun orangtua, akan dilingkupi rasa khawatir terhadap kehidupan siswa saat ini. “Maka tidak ada jalan lain, sekolah harus bisa memfasilitasi mereka untuk bisa menyikapi diri yang sesungguhnya. Oleh karena itu, di sini diperlukan kepiawaian dalam menanganinya. Kepiawaian itu mencakup kognitif, dan intelektual, termasuk dalam menyiapkan kurikulumnya, sehingga secara ilmiah siswa siap menghadapi tuntutan jaman.” Tambahnya.

Secara emosi dan sosial, pembina OSIS juga harus menyiapkan siswa untuk bisa memasuki kehidupan yang penuh dinamika ini. “Oleh karena itu, kalau pembinaan OSIS secara optimal melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di sekolah untuk memback up pelaksanaan dan pengembangan kurikulum, maka saya kira para siswa kita akan lahir sebagai sumber daya manusia yang luar biasa. Melalui forum ini kami berharap ada ide-ide atau hal-hal yang bisa kita diskusikan untuk melengkapi, dan menambah potensi yang sudah ada selama ini. Sehingga siswa betul-betul paham secara emosi, sosial dan spiritual.” Ujarnya. “Pembina OSIS bisa menjadi jembatan antara seni dan olahraga. Seni bisa menjadi salah satu kebanggaan sekolah, olahraga pun begitu. Begitu juga dengan OSN. Kebanggaan-kebanggaan itu bisa dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sangat dinamis dan sangat sehat di sekolah.” Katanya kembali.

Bukan Kegiatan Iseng-iseng
Di acara yang sama, Prof. Dr. Indra Djati Sidi juga mengungkapkan kalau kegiatan kesiswaan is as important as kegiatan akademik. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekedar kegiatan yang iseng-iseng belaka, bukan cuma kegiatan untuk rekreasi saja, kita harus bisa mengatakan bahwa kegiatan kesiswaan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam upaya kita untuk meningkatkan mutu pendidikan. “Oleh karena itu, kegiatan kesiswaan sangat penting,” tekannya.

Pentingnya kegiatan kesiswaan ini dipaparkan mantan Dirjen Departemen Pendidikan Nasional dengan memberi contoh pola-pola pembelajaran yang pernah dialaminya saat berada di Amerika dan mengajar di ITB. Di Amerika, menurutnya, ada mata kuliah olahraga. Itu sebabnya, ia juga mewajibkan di ITB untuk diadakan mata kuliah tersebut. Intinya, pelajaran olahraga dan seni penting, jadi bukan hanya sains saja yang harus memperoleh porsi perhatian yang lebih.

Dalam penjelasannya, kesiswaan bukan yang formal, kesiswaan harus melebur, dia bergaul dengan siswanya. Jadi organisasi kesiswaan atau OSIS adalah alat untuk mencapai tujuan, dan tujuannya adalah untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas buat mereka. Organisasi OSIS merupakan sebuah sistem, mekanisme dan cara yang digunakan manusia untuk mencapai tujuan bersama yang direalisasikan dalam visi dan misi yang jelas.

OSIS Nafas Sekolah
Menanggapi keikutsertaannya pada workshop ini, Armanisah S.Ag guru Bahasa Arab dari SMAN 9 Tunas Bangsa Aceh, berpendapat kalau pembinaan OSIS yang diadakan Direktorat Kesiswaan cukup penting. Menurutnya, nafas sekolah terletak di OSIS, sebab segala bentuk kegiatan, OSIS-lah yang berperan. Ia memberi contoh di bagian pengajaran, ketika ada cerdas cermat, ketika ada perlombaan, otomatis OSIS yang harus berperan untuk mencari siswa-siswa di bidang ini. “Apalagi berbagai kegiatan yang diadakan di sekolah, tolak ukurnya adalah OSIS.” Ujarnya.

Melalui forum ini, Armanisah berharap dirinya bisa melihat perkembangan OSIS di sekolah-sekolah dari provinsi lain. Event seperti ini diikuti oleh SMA seluruh Indonesia, mungkin saja ada masukan positif yang bisa dipetiknya. “Apakah yang kami laksanakan di sekolah sesuai dengan kurikulum nasional. Dengan adanya forum ini kami lebih terfokus.” Harapnya.

Pendapat senada juga diberikan Zubir S.Pd, guru SMAN 2 Pariaman Sumatera Barat. Melalui workshop pembinaan OSIS ini, ia berharap memperoleh terobosan-terobosan dan pemikiran-pemikiran baru yang bisa digunakan nantinya. Hal-hal berkaitan dengan OSIS yang lebih riil dan menyentuh, akan ia terapkan di sekolahnya. “Mungkin secara teori bisa kita temukan hal-hal baru yang dapat kita pakai di daerah. Masing-masing daerah punya pengalaman yang berbeda-beda. Dari situlah kita nanti memperoleh wawasan baru.” Katanya

Sedangkan Hendri Tuhusula guru SMAN 10 Ambon, menjelaskan, kalau sekolahnya dalam perkembangan terakhir ini sudah berusaha menyesuaikan segala kegiatan OSIS yang mengacu pada Permen yang baru. Dengan mengikuti kegiatan ini, ia merasa bisa menimba pengalaman dari para nara sumber maupun teman-teman dari daerah lain yang sudah lebih maju atau lebih berpengalaman. “Sehingga nantinya jika kami kembali ke daerah masing-masing, kami bisa implementasikan ke para siswa. Apa yang lebih kita teliti lagi dan kurang kita perbaiki. Tujuannya untuk membina siswa agar lebih lebih maju lagi,” terangnya.

Untuk Nusa Tenggara Timur, tepatnya kota Kupang, Drs. Ridzart M.Hanukh guru SMAN IV Kupang, telah memprogramkan berbagai kegiatan OSIS di se. Contohnya dengan melaksanakan program pertukaran siswa dengan Australia. Melalui workshop ini ia berharap bisa memperoleh masukan yang lebih lagi.

Dari kegiatan workshop ini, Nur Hidajati SH, guru SMA Muhammadiyah I Gresik, merasa memperoleh perkembangan baru untuk membina siswa di sekolahnya. Menurutnya, selama ini, kegiatan kesiswaan khususnya OSIS di sekolahnya su¬dah berjalan dengan baik. Bahkan, dikegiatan ekstrakurikuler, Desember 2008 lalu, anak didiknya masuk dalam rekor MURI un¬tuk bidang seni. Mereka mementaskan 15 naskah teater dengan 110 pemain. Selain seni, sekolahnya juga menonjol di bidang olahraga. “Nah dengan adanya pembinaan OSIS ini saya punya keinginan untuk memberikan pemahaman yang lebih mantap lagi pada para siswa. Karena ini kan ada kekuatan yang resmi dari pemerintah.” Ujarnya.

Selain merasa bersyukur, Sutrisno S.Pd, Wakasek Kesiswaan SMAN I Pamekasan merasakan sekali manfaat yang diperolehnya dari workshop pembinaan OSIS kali ini. “Saya berterimakasih ada kegiatan seperti ini, apalagi saya sudah hampir 4 tahun menjadi pembina kesiswaan. Jadi dengan kegiatan ini, siswa-siswa bisa lebih berkembang lagi. Lima puluh persen dari yang sudah diprogramkan di kegiatan ini telah kami laksanakan di sekolah.
Penjelasan Pak Indra Djati sangat bagus, saya terinpirasi untuk melaksanakannya di sekolah nanti.” Janjinya.
Menurut Rahmat Hidayat S.Pd, guru SMAN I Batu Sangkar Tanah Datar, Sumbar, kegiatan workshop sangat berguna. Selain bisa menambah wawasan, kegiatan semacam ini juga bisa memberi masukan yang positif bagi sekolahnya. “Penjelasan dari Pak Indrajati membuat kita sadar kalau kita masih banyak memiliki kekurangan. Seperti yang dikatakan pak Indra, kita harus berani mencoba. Masalah berat akan menjadi ringan kalau kita mau mengerjakannya. Intinya, kita harus kreatif.” Tegas Rahmat.

Selain memperoleh banyak masukan, Sakhoni S.Pd, guru SMAN 6 Samarinda Kaltim, juga merasakan workshop pembina OSIS memberikan banyak wacana. “Setelah kembali mungkin kami akan menginformasikan kepada teman-teman guru mengenai hasil yang kami peroleh. Karena pembina OSIS, kan sebatas pada tugas pokoknya, tetapi dalam struktur organisasi kesiswaan sebenarnya tidak hanya ada satu pembina. Hampir setiap guru adalah pembina. Selain itu, fungsi guru bukan hanya sebatas di sekolah saja, ia bisa menjadi orangtua sekaligus sahabat.” Jelasnya.

Di akhir kegiatan worshop, Ishak Suleman, S.Pd dari SMAN 44 Gorontalo merasakan kegiatan pembinaan Osis ini memberi¬kan motivasi bagi ia dan rekan-rekannya untuk membina siswa-siswa di sekolah asal. “Kami memang memiliki kendala di dalam pembinaan OSIS, terutama yang berkaitan dengan akademik dan eskul. Mungkin eskul dianggap kegiatan yang menggang¬gu, karena setiap sekolah selalu nilai-nilai akademik yang diuta¬makan. Untuk ke depannya, saya bertekad agar kegiatan eskul bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan Mendiknas.”

Di akhir kegiatan workshop, Drs. Mukhlis Catio M.Ed berpesan, apa pun yang akan kita lakukan, segalanya memang tergantung dari niat. Asal ada niat pasti terwujud.

Dari hasil workshop kali ini akan dibuat panduan Pembina OSIS Sekolah Menengah Atas. Panduan ini bersifat lebih teknis dan implementatif, disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, situasi, sarana, dan fasilitas yang tersedia. Penyusunan panduan ini melibatkan Sekolah Kategori Mandiri (SKM) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) serta beberapa sekolah regular dari seluruh Indonesia. Fanny


Sumber: Potensi

Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Indonesia Raih Juara Umum ICYS 2009

LIPUTAN POTENSI

Untuk pertama kalinya Indonesia berhasil meraih juara umum pada ajang kompetisi ilmuwan muda tingkat internasional atau International Conference of Young Scientists (ICYS) ke-16 di Pszczyna, Polandia, 24-28 April 2009. Tim Indonesia sebanyak 18 peserta berhasil merebut enam medali emas (terbanyak dari seluruh peserta), satu perak, dan tiga perunggu.

Prestasi tertinggi ini diraih para pelajar Indonesia setelah sepuluh karya penelitian yang dipresentasikan tim ICYS Indonesia memperoleh medali penghargaan. “Saya sangat bangga karena negara yang paling banyak mendapatkan medali emas adalah Indonesia. Proyek penelitian anak-anak ini spesifik, asli, dan belum pernah dipublikasikan,” ujar Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Dr. Sungkowo M saat menyambut kedatangan Tim ICYS Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Jumat, (1/5/) malam.

“Ini betul-betul prestasi luar biasa. Persiapan mereka tidak main-main, karena mereka sudah dibiasakan untuk membuat project penelitian. Oleh karena itu saya sangat memberikan apresiasi kepada mereka yang telah mengharumkan nama bangsa. Hanya saja nanti ada leveling, ada tingkatan tertentu yang membatasinya. Proses seleksi yang sudah dilakukan untuk ICYS dapat terus berlanjut, tinggal nanti bagaimana kita memfasilitasinya saja secara nasional.” Tambah Dr. Sungkowo.

Indonesia menduduki peringkat pertama sekaligus juara umum diatas Jerman, Belanda, Amerika Serikat, dan Rusia. Lima besar hasil perolehan medali negara-negara peserta : Indonesia (6 emas, 1 perak, 3 perunggu), Jerman (3 emas, 4 perak, 2 perunggu), Belanda (3 emas,1 perak, 2 perunggu), dan Amerika Serikat (3 emas), dan Rusia (2 emas, 3 perak, 3 perunggu).

Perolehan dua medali emas didapat dari bidang fisika oleh Guinandra Lutfan Jatikusumo (SMA Taruna Nusantara) dengan penelitian berjudul Menghilangkan Asap dan Debu dari Tank Perang serta Idelia Chandra (SMA St Laurensia) yang meneliti perbedaan suara secara fisika dalam gamelan Bali. Medali emas lainnya dari bidang komputer dipersembahkan Nugra Akbari (SMA Global Mandiri) yang mempresentasikan penelitian soal batik yang dapat didesain lewat fractal.

Tiga medali emas selanjutnya didapat dari bidang ekologi yang dipersembahkan oleh J Karli (SMA Cita Hati) yang mempresentasikan soal durian yang ternyata bisa membunuh nyamuk, Gabriella Alicia Kosasih (SMA St Laurensia) soal bakteri bisa memutus rantai molekul oli sehingga mudah dihancurkan tanah, serta Fernanda Novelia (SMA Petra 3) soal cara mengontrol hama dengan cara efektif. Berikut data lengkap perolehan medali ICYS 2009 :












Tertarik dengan penelitian yang berkaitan dengan militer menurut Guinandra, karena akses ke arah sana memang lebih mudah. Terlebih sekolah Taruna Nusantara mirip dengan akademi militer, jadi lebih gampang. Persiapannya melakukan penelitian ini 4-6 bulan.

“Saat kompetisi disana saya diberikan waktu presentasi selama 15 menit. Mereka umumnya terdiri dari juri-juri fisika profesional. Awalnya saya merasa sedikit takut, tapi saya berusaha menjawab dengan dengan benar pertanyaan-pertanyaan mereka tentang riset. Senang sekali saya bisa dapat emas, ” ungkap Guinandra.

Guinandra berharap dari pihak pemerintah dapat memberikan beasiswa dari prestasi ini. “Penelitian ini ingin saya kembangkan lagi dan dilanjutkan. Sayang kalau harus berhenti sampai di sini,” tambah Guinandra.

Sementara I Made Rayo Putra, peraih medali perunggu bidang matematika, melakukan penelitian menebak tanggal lahir dengan menggunakan metode Hamming Code. Dia mengaku, idenya berangkat dari sikap teman-temannya yang enggan belajar matematika. “Teman-teman akhirnya menyenangi matematika. Hamming Code juga bisa untuk mendeteksi kebohongan,” katanya.

Prestasi Indonesia Terus Meningkat
Pendirian ICYS tahun 1994 diprakarsai oleh Eotvos Lorand University, Budapest Hungaria, dan Belarusian State University, Minsk, Belarus. Indonesia, bersama India dan Jepang, duduk bersama mewakili Asia, mulai mengirimkan delegasi untuk pertandingan ilmiah tersebut mulai tahun 2005, bertarung dengan rekan-rekan mereka dari negara-negara Amerika dan Eropa.

Indonesia pertama kali mengikuti lomba ini pada ICYS ke-12 pada tahun 2005 di kota Katowice, Polandia. Ketika itu Tim Indonesia membawa penelitian di bidang Fisika yang berjudul “The Physics of Badminton” memperoleh satu medali perunggu yang diraih oleh Dhina Pramita Susanti dari SMAN 1 Semarang bersama Chrisanthy Rebecca Surya asal sekolah dari SMA Dian Harapan Tangerang. Penelitian bidang Fisika lainnya berjudul “Chaos in The Experimental Problem of The IPHO 35., memperoleh Special Award yang diraih oleh Anneke Nelce Bowaire asal sekolah dari SMAN 1 Serui, Papua bersama Diatra Zulaika Husodo dari SMA Al Izhar Pondok Labu, Jakarta.

Pada ICYS ke-13 tahun 2006 di Stuttgart, Jerman, Tim Indonesia mengirimkan enam peserta (lima bidang Fisika dan satu bidang Ekologi). Berhasil meraih dua perunggu dalam bidang penelitian fisika. Pada ICYS ke-13 ini pula untuk pertama kalinya, Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi anggota tim juri bidang Fisika, Monika Raharti, M.Si. yang juga sebagai team leader yang memimpin kontingen Indonesia di Pszczyna. Sebuah medali perak dalam bidang Fisika berhasil diraih oleh Tim Indonesia pada ICYS ke- 14 pada tahun 2007 yang diadakan di kota Saint-Petersburg, Rusia.

Prestasi Tim Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2008 ICYS ke-15 yang diselenggarakan di kota Chernivtsky, Ukraina, Tim Indonesia meraih satu perak bidang Ekologi, satu perunggu bidang Ekologi, dua perunggu bidang Fisika. Selain itu Indonesia juga meraih empat Special Award yaitu Best Performance bidang Fisika, Teaching in Physics bidang Fisika, untuk Most Creative Research bidang Computer Science dan Best Research bidang Matematika.

Rencananya pada tahun 2010, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah ICYS ke-17 yang akan diselenggarakan di Bali, 9-13 April 2010. Indonesia akan menjadi negara Asia yang pertama dipercaya menjadi tuan rumah sejak ICYS diselenggarakan pada tahun 1994. (rinda)


Sumber: Potensi



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Dari - Workshop Pembinaan Kesiswaan


Dr. Sungkowo: "Kurikulum Penting".


Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), khususnya di tiap daerah, menjadi barometer di daerahnya masing-masing, demikian Dr. Sungkowo M dalam kata sambutannya pada acara pembukaan Pembinaan Kesiswaan yang berlangsung di Grand Hotel Lembang, Bandung, Jawa Barat 17-20 Maret lalu. Direktur SMA juga menjelaskan, bahwa mutu pendidikan dilihat dari SMA-nya. Pada tahun 2009, pendidikan di Indonesia sudah ditandai dengan tuntasnya wajib belajar pendidikan 9 tahun secara nasional. SMA yang dimaksud termasuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA).

Meski wajib belajar 9 tahun secara nasional di daerah-daerah tertentu masih belum tercapai atau belum tuntas, namun dengan keberhasilan secara nasional, angka partisipasi kasar Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Tsanawiyah (Mts) sudah mencapai angka 95%. Artinya, dibandingkan dengan penduduk usia 13-15 tahun, dari jumlah 1000 anak, yang masuk SMP mencapai kurang lebih 950 ribu orang. Dengan demikian, Angka Partisipasi Kasar (APK) sudah mencapai 95%. Sedangkan jumlah anak SD yang masuk SMP invorement rate-nya secara nasional sudah mencapai 120% APK.

Dengan keberhasilan wajib belajar 9 tahun, nantinya setiap tahun ada tambahan sekitar 4 juta siswa SMP yang lulus secara nasional. “Nah, 4 juta siswa ini mau ditampung di mana? Tentu saja harus ditampung di tingkat SMA. Mereka bisa saja masuk SMK, dan bisa pula ke madrasah. Namun, apakah cukup daya tampung SMA serta SMK tersebut? Untuk mengantisipasinya harus menambah Ruang Kelas Baru (RKB) dan Unit Sekolah Baru
(USB). Sehingga pada tahun 2014 Angka Partisipasi Kasar (APK) dan environment rate SMA, ditargetkan bisa mencapai 85 persen. Saat ini baru mencapai 62 persen. Artinya 100 anak dengan usia 16-18 tahun yang mengenyam pendidikan di sekolah menengah, baru
60% yang bisa sekolah. Jadi, agar mereka bisa tertampung harus disiapkan infrastrukturnya dulu. Itu menjadi tanggung jawab kita. Tanggung jawab pemerintah pusat, tanggung jawab pemerintah provinsi, dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kodya,” ujar Dr. Sungkowo M.

Menurutnya, kewajiban SMA saat ini adalah meningkatkan mutu pendidikan dan relevansinya. Kalau hendak meningkatkan mutu, yang perlu ditingkatkan adalah mutu sekolah. Jika hendak meningkatkan mutu sekolah, artinya harus membuat sekolah itu
efektif. Sekolah akan efektif bila proses pembelajarannya juga efektif. Berbicara tentang proses pembelajaran berarti berbicara minimum equipment, dan minimum condition. Supaya terjadi proses pembelajaran, syaratnya ada tiga, pertama terletak pada
guru. Jika ingin proses pembelajaran bagus, guru yang mengajar harus profesional, dan kompeten. Kedua, siswa. “Siswa itu seperti kertas putih yang belum ditulis. Dia akan menjadi baik kalau tulisannya baik, dan akan menjadi buruk kalau tulisannya buruk.
Yang ketiga adalah sarana dan prasarana yang baik. Dari ketiga syarat tadi, harus didukung juga oleh manajemen, kepala sekolah yang baik, yang bagus dan piawai. Siswa harus kita bina dengan baik, sebab output sekolah adalah siswa,” lanjut Sungkowo.

Pembinaan kesiswaan sangat penting, sebab proses pembelajaran adalah bagian dari pembinaan kesiswaan. Output yang akan dihasilkan adalah siswa, bahkan yang namanya rintisan Sekolah Bertaraf Internasional itu pun, indikator keberhasilannya adalah siswa. Lalu bagaimana cara membina siswa agar mereka potensial? Menurut Dr. Sungkowo M kembali, pembinaan tersebut harus melalui kurikulum, sebab kurikulum adalah standar isi, yang dibuat oleh guru.

Membina siswa pun harus melalui kurikulum, sebab kurikulum adalah tujuan pendidikan. Kurikulum yang diimplementasikan di dalam dunia pendidikan, akan mewujudkan manusia seutuhnya. Dari sana, banyak indikator-indikator keberhasilan yang dapat digali
oleh siswa. “Kita tidak hanya mengembangkan aspek kecerdasan saja, namun ada aspek lainnya, yaitu kecerdasan rasa atau emosi, dua hal ini bisa menumbuhkan nilai-nilai seni dan kehalusan budi. Bila kelak si siswa dewasa maka kebiasaan itu akan terus terbawa hingga mereka terjun ke masyarakat. Dengan otak yang cerdas, emosional yang terkendali dengan baik, memiliki kehalusan budi, serta ditambah dengan kecerdasan hati, akan membentuk kepribadian, budi pekerti, moral, dan ahlak mulia. Tidak hanya itu saja, siswa juga harus mempunyai kecerdasan kinestetik, sehat jasmani dan rohani. Dengan demikian, otaknya pun akan cemerlang, ia memiliki nilai seni, dan memiliki kelembutan hati,” tukas direktur SMA.

Ajang Tukar Pikiran
Pentingnya pembinaan kesiswaan dirasakan pula oleh Alwan Tokan, Guru Bimbingan

Konseling SMAN 6 Kupang, NTT, mengungkapkan kalau ia menerapkan pembinaan ini sesuai dengan kondisi yang ada di provinsinya dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan. “Ada beberapa komponen yang harus diberikan kepada siswa, pertama bimbingan konseling, dalam hal ini bimbingan belajar, bimbingan pribadi, sosial dan karir, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta ahlak mulia. Selain itu, di sekolah kami yang paling menonjol adalah MIPA (Matematika dan Ilmu Pasti Alam). Untuk kota Kupang, sekolah kami termasuk yang terbaik. Hal itu dilihat dari kelulusan, prosentasi kelulusan setiap tahun yang hanya bisa disaingi oleh sekolah-sekolah swasta, seperti SMA Geovani dan Mercusuar. Dua sekolah itu terbilang sekolah swasta yang menonjol di Kupang. Dari kegiatan pembinaan kesiswaan ini, saya berharap bisa memeroleh program-program baru yang akan kami terapkan ke siswa. Di sini kita bisa saling bertukar pikiran dan mencari solusi tepat untuk diterapkan ke siswa,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Dra. Carolina Mustamu, Wakasek Kesiswaan SMAN I Ambon, menuturkan. Dalam menghadapi era globalisasi, sekolahnya berupaya untuk meningkatkan kualitas, hal ini disebabkan karena potensi siswa yang masuk tidak merata.
Carolina melihat di era global ini, pembinaan kesiswaan sangat penting, karena untuk meningkatkan prestasi siswa bukan hanya intelektualitasnya saja yang dipacu, tetapi bakat, minat, dan atensi dirinya harus dikembangkan lebih baik supaya anak itu lebih tahu apa potensi dirinya. Dengan demikian si siswa menjadi berimbang antara penguasaan ilmu dan pengembangan kepribadiannya. Korelasi yang terjadi dengan keadaan sekarang ini, akan membuat siswa lebih kreatif lagi. “Ada sisi positif dari kegiatan ini, di mana kami bisa berbagi dan memetik kelebihan dari sekolah di daerah lain untuk diimplementasikan di sekolah kami. Sebab, masing-masing sekolah memiliki pola yang berbeda. Misalnya peserta dari Jakarta, kita bisa sharing pengetahuan dengan mereka, ilmu yang kita peroleh bisa kita kombinasikan di sekolah nantinya,” ujarnya.

Sedangkan Drs.Wiradi dari SMA Muhammadiyah 2 Metro Lampung, merasakan manfaat yang sangat siginifikan dengan mengikuti workshop ini. Ia berharap dengan mengikuti kegiatan pembinaan kesiswaan, memperoleh masukan yang berarti untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolahnya. Ia juga berpendapat sama dengan rekannya dari Ambon, bahwa melalui kegiatan ini dirinya bisa sharing dengan teman-teman dari sekolah lain,
khususnya Jakarta, untuk meningkatkan input yang ada di sekolahnya.

Karena sekolahnya berada di daerah pinggiran (ujung), tingkah laku maupun intelejensi siswanya masih di bawah rata-rata. Melalui bimbingan konseling dan pendekatan yang lebih intens, khususnya dengan orangtua siswa, Heriyanti S.Pd, guru Bimbingan Konseling
SMAN 6 Pontianak, merasakan ada manfaat yang sangat besar bagi siswa-siswanya. Melalui kegiatan Pembinaan Kesiswaan yang diikutinya, ia berharap dapat memeroleh masukan-masukan yang berharga untuk dikembangkan di sekolahnya. “Dengan
adanya workshop pembinaan kesiswaan, saya ingin mengambil pengalaman dari peserta lainnya. Melalui ajang ini kita bisa saling bertukar pengalaman,” harapnya.

Menurut Muhardi Kahar S.Psi, guru Bimbingan Konseling SMA Muhammdiyah I Medan, saat ini pembinaan kesiswan yang dilaksanakan di sekolahnya mencakup pembinaan ekstra kurikuler yang mengambil beberapa program, contohnya, program olahraga. Secara spesifik, program yang paling aktif adalah sepak bola dan pencak silat. Untuk pencak silat sekolahnya sudah berprestasi hingga ke tingkat nasional dengan mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun lalu di Jakarta. Melalui workshop pembinaan kesiswaan ini, Muhardi berharap bisa memeroleh masukan yang bisa ia terapkan di sekolahnya. “Sebab di sekolah kami, segi afektifnyalah yang sekarang bermasalah. Apalagi saat ini pengaruh globalisasi dan pengaruh handphone sangat besar untuk anak didik, kalau kita tidak terapkan disiplin, sangat berbahaya. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini ada solusi postif yang bisa saya terapkan untuk para siswa.”

Kegiatan yang berlangsung selama 4 hari (17-20 Maret) ini diikuti oleh Kasi Sekolah Menengah Atas, Dinas Pendidikan Provinsi, Wakasek bidang Kesiswaan, Wakasek Kurikulum, dan guru bimbingan konseling. Dalam laporannya, Suharlan SH.MM
menjelaskan bahwa peserta akan melakukan rapat kerja. Rapat kerja tersebut merupakan kebijakan direktorat pembinaan sekolah menengah atas, di dalamnya berisi pembinaan kesiswaan dalam meningkatkan kreativitas dan nasionalisme, pengembangan diri,
kepribadian dan pembinaan bakat prestasi, SQ, dan kerja kelompok. Pada kerja kelompok, peserta akan mereview buku pedoman pembinaan kesiswaan, pedoman latihan dasar kepemimpinan siswa, pedoman ketahanan sekolah, pedoman bela negara, pedoman gerakan sopan santun di siswa, pedoman pembinaan klub bakat, pedoman kultur sekolah dan penyusunan action plan program kesiswaan di daerah. Sedangkan metode yang digunakan adalah ceramah, tanya-jawab, diskusi dan pembahasan materi.

Acara yang ditutup oleh Drs. Mukhlis Catio M.Ed, berlangsung tertib dan lancar. Dalam pidato penutupannya, Mukhlis mengatakan bahwa tugas berat masih di depan mata. Ia berharap sinergi yang efektif, dan kerjasama terus terjalin demi mutu dan kualitas
pendidikan di Indonesia. Mukhlis juga mengucapkan terimakasih atas waktu dan jerih payah yang telah diberikan oleh para peserta. (Fanny)



LIPUTAN POTENSI




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

TOFI Raih Delapan Medali

LIPUTAN POTENSI


Sabtu (02/05),
Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta, cengkareng. Dua emas, empat perak, dan dua perunggu berhasil diraih oleh putra-putri bangsa usai berlaga dalam APhO ke X di Bangkok Thailand, 24 April-2 Mei 2009. Tak hanya itu, siswa asal SMAK I BPK Penabur Jakarta, Winson Tanputraman meraih Best Experiment.

APhO 2009 diikuti oleh 23 negara yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, China, Taiwan, Hongkong, India, Israel, Jordania, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Macao, Malaysia, Mongolia, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Tajikistan, Turkmenistan, Vietnam, Thailand, dan Indonesia. Situasi politik yang tengah melanda Thailand saat ini mengakibatkan negara peserta APhO 2009 sedikit berkurang. Ada tujuh negara yang membatalkan ikut antara lain Australia, Laos, Singapura, Hongkong, dan lainnya.

Tim pembina TOFI yang terdiri dari Hendra Kwee Ph.D, Kamsul Abraha Ph.D, dan Drs. Widia Nursiyanto M.Si memaparkan, yang spesial tahun ini adalah kedelapan peserta semuanya mendapatkan medali, minimal perunggu. “Ini adalah perolehan medali terbanyak,” ujar Kamsul.

Kamsul menambahkan,terjadi persaingan nilai yang ketat antar peserta. Pencapaian nilai seluruh tim secara umum rendah kecuali China yang memboyong delapan emas. Relatif siswa bersaing keras dalam menjawab soal. Mungkin yang perlu didorong adalah semangat untuk bertarung lebih kuat lagi. Dari segi penguasaan materi menurut pelatih sekaligus pembina Hendra Kwee, soal tahun ini dibandingkan tahun lalu relatif lebih singkat dan tidak terlalu sulit. Namun butuh ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi, dan anak-anak sedikit lemah disitu. Untuk persiapan IPhO Juli mendatang, Hendra bersama tim pembina lainnya akan melihat kembali hasil test siswa dan memperdalam kekurangan materi yang pernah dipelajari. Pada pembinaan IPhO nanti akan dipilih lima peserta yang akan mewakili Indonesia pada IPhO 2009 di Taiwan.

“Sejak pelatihan memang sudah kita siapkan untuk pulang bawa medali. Target kita sebelum berangkat memang dua medali emas. Saingan kita kali ini cukup berat terutama dari China, Thailand, dan Taiwan. Karena persaingan yang ketat, perolehan nilai pun sangat tipis. Thailand kali ini juga mendapat 5 emas dari 22 medali emas yang diperebutkan”, ujar Hendra.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas mengucap syukur atas prestasi yang diraih tim APhO. “Ini adalah permulaan prestasi dari olimpiade fisika internasional. Mudah-mudahan dapat menjadi pemicu untuk kompetisi sains internasional lainnya. Saya berharap pada IPhO nanti medali emas bisa lebih banyak lagi,” ujar Dr. Sungkowo.

Tantangan Para Peraih Medali
Meski meraih medali emas, Winson dan Dzuhri tetap mendapatkan tantangan seperti soal yang sulit dan saingan dari negara-negara langganan emas seperti China, Taiwan, dan Thailand. “Tapi saya menghadapinya dengan sabar dan tekun, dan akhirnya bisa. Soalnya juga setipe dengan yang kita pelajari saat pelatihan. Saya senang dan bingung, karena tidak mengira bisa dapat emas. Ada dua bagian soal, satu eksperimen, satu teori. Masing-masing waktunya lima jam. Teorinya tentang mekanika, listrik, dan termodinamika. Listrik masih lebih mudah dari yang lainnya,” kata Zuhri yang meraih emas dengan poin 42,2.

“Sebenarnya semua peserta bisa mengerjakan soal, hanya saja tergantung sejauh mana ketelitiannya mengerjakan soal.” Tambah Winson.

Sandoko yang menargetkan dirinya bawa pulang perunggu, tak menyangka bisa dapat perak. “Soalnya susah banget, nggak kepikiran dapat perak,” ujar Sandoko.

Hal serupa dialami Paul. Ia juga tak menyangka dirinya mendapatkan perak. “Dari hasil simulasi APhO lalu, aku pikir cuma dapat perunggu. Soalnya juga susah-susah gampang, tergantung kita ngerjainnya gimana.” Kata Paul.

Lain halnya dengan Andri, yang memprediksi dirinya dapat emas. Namun Ia harus puas dengan perak dengan peroleh poin 40. “ 2 poin lagi dapat emas,” kata Andri. Andri mengaku kesalahannya tidak mampu memenuhi target dikarenakan kelalaiannya saat melakukan praktikum. “Selain itu, proses pemahaman soal saya juga agak lambat,” tambah Andri.

Semua peraih medali APhO 2009 mengharapkan dapat beasiswa ke luar negeri. Tak tanggung-tanggung, Winson dan Andri mengincar universitas di negeri paman sam. Lain halnya dengan Zuhri dan Paul yang lebih memilih kuliah di dalam negeri. (rinda)

Peraih Medali APhO, Thailand 2009

No. Nama Asal Sekolah Medali Yang Diperoleh

1. Winson Tanputraman SMAK 1 BPK Penabur Jakarta Emas + Best Eksperimen

2. Dzuhri Radityo Utomo SMAN 1 Yogyakarta Emas

3. Andri Pradana SMAK 1 BPK Penabur Jakarta Perak

4. Fernaldo Richtia Winnerdy SMAK Gading Serpong Banten Perak

5. Sandoko Kosen SMAS Sutomo 1 Medan Perak

6. Paul Zakharia Fajar Hanakata SMAN 1 Denpasar Bali Perak

7. Muhammad Sohibul Maromi SMAN 1 Pamekasan Perunggu

8. Brigitta Septriani SMA Santu Petrus Pontianak Perunggu



Sumber: Potensi



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Pembinaan Kesiswaan Perlu Mendapat Perhatian Serius


Kondisi siswa Sekolah Menengah Atas saat ini perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi, beragam budaya yang diterima oleh mereka tak bisa dibendung lagi. Budaya hedonis yang mengarah pada kenikmatan sesaat, dikhawatirkan dapat membuat siswa bertindak pada hal-hal yang negatif, seperti narkoba, pergaulan bebas, tawuran, dan lain sebagainya.

Menyikapi demikian besarnya pengaruh globalisasi di kehidupan remaja Indonesia, pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional semakin gencar melakukan berbagai penyuluhan dengan berbagai metode yang disusun oleh pihak-pihak pemerhati pendidikan.

Mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) No. 39, Tahun 2008 menurut Drs. Muchlis Catio M.Ed, Kasubdit Kesiswaan Direktorat Pembinaan SMA, pembinaan kesiswaan mencakup 3 hal yaitu, kondisi siswa saat ini, strategi yang akan dijalankan, dan kondisi siswa yang diharapkan. Sedangkan sekarang ini, Direktorat Kesiswaan memiliki beragam kegiatan yang berkaitan erat dengan siswa. Hal ini disebabkan karena kondisi yang ada sekarang dan tingkat kepedulian siswa terhadap lingkungan masyarakat sekitar, serta rasa sosial, dan nasionalitas mereka mulai berkurang. “Mereka asyik dengan diri sendiri. Di samping itu, pengaruh tayangan di televisi dan internet juga punya pengaruh yang kuat terhadap mereka, ” tegas Mukhlis Catio.

Kegiatan Ekstra Kurikuler
Perilaku menyimpang dalam diri siswa yang muncul saat ini sangat memprihatinkan. Masalah yang dianggap sepele menjadi pemicu terjadinya berbagai penyimpangan dalam kehidupan siswa se hari-hari. “Salah satunya, bisa disebabkan oleh kurangnya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Sekolah tidak memiliki lapangan yang luas sehingga ruang gerak mereka menjadi terbatas. Dengan keterbatasan ruang untuk melakukan eskul, siswa mencari kegiatan di luar sekolah untuk mengaktualisasikan diri. Keadaan seperti ini bisa berbuntut panjang, bisa berubah menjadi tawuran dan tindakan menyimpang lainnya. Keadaan ini juga membuat siswa kurang disiplin.” Ungkap Mukhlis.

Jadi, menurut Mukhlis kembali, kondisi sekolah pegang peranan penting. Sekolah dengan lahan terbatas, membuat ekspresi jiwa siswa terbendung, mereka tidak memiliki tempat untuk menuangkan kemampuannya. Hal itu sangat berpengaruh pada kepribadian mereka. Perkelahian, pengrusakan, perampasan, pembunuhan, narkoba, coret-coret, kebut-kebutan, bergadang dan perkosaan, adalah salah satu contoh yang muncul dari keterbatasan sarana yang ada di sekolah. Rumah dan lingkungan tempat tinggal juga memiliki peranan penting dalam membentuk karakter siswa. Rumah dengan halaman sempit, terletak di lingkungan kumuh, dan tidak sehat, juga bisa menjadi salah satu unsur yang dapat memicu berbagai tindakan negatif siswa.

Menurut Mukhlis Catio kembali, jika aktivitas dilakukan di luar, atau di jalanan, diprediksi akan menimbulkan perilaku menyimpang. Selain itu, ia melihat generasi muda sekarang terlihat apatis, pasif, dan kurang kreatif. Keapatisan mereka kadang ditimbulkan oleh banyak hal. “Kadang-kadang mereka masa bodoh dengan keadaan sekitar. Hal ini mencerminkan mereka tidak mempunyai masa depan, seolah-olah tidak punya cita-cita. Mereka juga banyak yang frustasi, baik yang disebabkan oleh ekonomi, keluarga serta kehidupan keagamaan dan keimanan yang kurang kuat,” tambahnya.

Tidak Ada Idola
Dalam pandangannya, Mukhlis menjelaskan, siswa di era globalisasi ini, jarang yang memiliki idola. Padahal dengan memiliki idola merupakan bentuk dari ekspresi diri untuk mewujudkan apa yang dicita-citakannya, sekaligus dapat memberikan motivasi bagi diri mereka secara pribadi. Di samping itu, mereka juga cepat marah dan emosional. Yang jelas, dengan tidak adanya motivasi, akan membuat masa depan mereka suram, sebab tidak ada tantangan. Mereka ingin yang serba instant, dan serba cepat, dengan demikian kemandirian dan daya juang mereka menjadi berkurang. Melihat keadaan seperti itu, jika tidak segera diantisipasi, akan sangat riskan apabila mereka lulus sekolah kelak.

Guna menghadapi itu semua, harus ada strategi dalam menyikapinya. Peran orangtua merupakan pilar utama untuk membentuk kepribadian anak-anaknya. Pengaruh sekolah juga memiliki peranan penting. Sekolah dengan mutu yang baik akan memberikan dampak yang baik pula bagi siswa-siswanya. Sedangkan sekolah dengan mutu dan kualitas yang buruk akan membentuk karakter siswa sama seperti kondisi sekolah tersebut. Mukhlis juga merasa miris dengan budaya hedonis yang saat ini melanda siswa Indonesia. Menurutnya, dunia dugem kehidupan malam dapat memberikan pengaruh negatif pada mereka. “Apa jadinya jika siswa yang berasal dari lingkungan tidak mampu masuk ke dalam kehidupan seperti itu?” tukasnya.

Selain peran orangtua, kondisi sekolah, budaya hedonis, pengaruh politik, korupsi dan keadaan masyarakat yang tidak kondusif juga memiliki peran besar dalam kehidupan siswa. “Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah, perlu orientasi dan pelatihan serta aktualisasi. Contohnya seperti pelatihan OSIS, pelatihan menulis essay. Lomba membaca puisi, lomba menyanyi, menari, dan lomba lainnya yang sesuai dengan bakat dan minat para siswa tersebut. Dampaknya akan berpengaruh pada kehidupan para remaja serta stabilitas dan masa depan bangsa.” Jelas Mukhlis.

Abila tidak diantisipasi secepat mungkin, sepuluh tahun lagi bangsa akan merugi karena merosotnya kualitas generasi muda. Terlebih lagi jika hal itu dikaitkan dengan narkoba, maka akan ditakutkan kelak terjadi lost generation. Itu sebabnya, salah satu solusi yang diharapkan bisa memberikan jalan keluar adalah dengan membuat Undang-Undang Pendidikan. Tujuan UU pendidikan akan membentuk manusia yang bertaqwa, beriman, dan siswa memiliki pengetahuan, serta skill yang dapat membantu kehidupan mereka di masa datang.

Kegiatan Kesiswaan
Pemerintah melalui Diknas, khususnya Direktorat Pendidikan, SMA, selama ini telah melakukan berbagai kegiatan-kegiatan kesiswaan yang sifatnya akademik dan non akademik. Kegiatan akademik mencakup lomba fisika, kimia, biologi, dll, dan non akademik, berupa lomba-lomba seni, olahraga dll. Di samping itu, baru-baru ini, bertempat di Bandung, Direktorat Pendidikan SMA juga mengadakan pertemuan dengan 36 perguruan tinggi seluruh Indonesia. “Kita membentuk tim di tingkat provinsi yang akan menjadi jembatan dalam melakukan kegiatan-kegiatan dan implementasi mengenai kegiatan kesiswaan di provinsi. Kegiatan ini akan direalisasikan, disahkan, serta di SK-kan untuk dicetuskan dan diintervensi.” Tambahnya.

Pertemuan dengan 36 perguruan tinggi seluruh Indonesia ini, merupakan tindaklanjut dan kerjasama dengan perguruan tinggi, khususnya dalam bidang akademik. Kegiatan selanjutnya mengadakan workshop tentang pembinaan kesiswan. Pada workshop ini akan hadir Kasi Kesiswaan SMA dari seluruh provinsi, serta Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, dan guru BK (Bimbingan Konseling). Dari gambaran yang ada, menurut Muchlis kembali, jalur yang ditempuh pemerintah solusinya jelas. “Dengan adanya lomba-lomba, otomatis siswa-siswa akan sibuk. Selain itu, mereka juga memperoleh dorongan dari sekolah, kabupaten, dan provinsi untuk berdiskusi. Dengan demikian sekolah, bupati dan walikota akan bangga bila siswa-siswa mereka berhasil maju ke tingkat nasional dan memperoleh medali emas. Saya kira bila budaya kompetitif dan budaya lomba-lomba kerap diadakan, ini sangat positif,” ujar Drs. Mukhlis Catio M.Ed. (Fanny)


Sumber: POTENSI



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

O2SN Tumbuhkan Jiwa Sportivitas


Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang akan berlangsung 15 – 19 Juni 2009 di Jakarta, sejauh ini sudah berjalan lancar. Kegiatan olahraga yang diikuti siswa-siswa dari seluruh SMA se-Indonesia, merupakan ajang unjuk ketrampilan di bidang olahraga dengan mengusung unsur sportivitas, kejujuran dan kebersamaan. Melalui ajang ini pula, jiwa kompetitif yang muncul dari tiap peserta, menjadi lebih positif dan terarah.



Menyambut datangnya event O2SN ini, Alex Firngadi selaku penanggungjawab kegiatan, menyampaikan, bahwa sejauh ini persiapan sudah berjalan dengan baik. Nama-nama peserta tengah didata, mereka dikirimi surat panggilan untuk berlaga di Jakarta. Selain surat pemanggilan, tempat-tempat pertandingan pun telah dipilih dengan pertimbangan yang cermat. “Cabang olahraga atletik dan bulu tangkis mengambil tempat di LPMP, cabang tenis meja ditempatkan di Museum Listrik, cabang olahraga karate mengambil tempat di Taman Rekreasi Wiladatika, sedangkan cabang olahraga pencak silat mengambil tempat di PPSDP Cibubur. Lokasi ini sekaligus menjadi tempat penginapan bagi para peserta. Dipilihnya tempat-tempat tersebut agar mereka mudah mengakses tempat-tempat rekreasi yang ada di sekitarnya,” tutur Alex Firngadi, penanggung jawab kegiatan O2SN.

Sedangkan untuk menghadapi proses pertandingan, menurut Alex sudah dilakukan beberapa kali pertemuan dengan para juri dan wasit. Menurutnya, pada dasarnya mereka sudah oke untuk memimpin pertandingan yang akbar ini. “Mungkin di tahun-tahun mendatang, kegiatan lomba akan diadakan di Sumatera atau Kalimantan. Sedangkan prospek ke depannya, siswa yang berprestasi dan berhasil memperoleh medali emas di ajang ini, akan memperoleh perhatian dari pemerintah dalam bidang pendidikan mereka.” Ujar Alex.

Hadiah semua cabang yang dipertandingkan jumlahnya sama. Juara pertama memperoleh hadiah lima juta rupiah, juara dua empat juta rupiah, juara tiga memperoleh hadiah tiga juta rupiah dan juara empat satu setengah juta rupiah. Khusus untuk olahraga karate dan pencak silat, yang menjadi juara pertama akan diikutsertakan dalam lomba-lomba di tingkat internasional.

Untuk cabang olahraga karate, pihak Diknas telah bekerjasama dengan PB Forki di mana tahun 2006 lalu, sudah mengirimkan peserta karate untuk berlaga di Jepang. Rencananya, juara tahun 2009 ini akan dikirim berlaga di Mesir. Cabang karate juga telah berhasil unjuk gigi di Kinabalu, Sabah, Malaysia 2008 lalu.

Pemerintah khususnya Diknas juga memperhatikan pendidikan lanjutan mereka. Bagi yang berhasil memperoleh emas di tingkat internasional, mereka bisa melanjutkan pendidikannya ke universitas negeri, contohnya Universitas Indonesia. Saat ini juara 1 sotokan pada kejuaraan karate 2006 di Jepang, yaitu Bianca Talameti dari SMAN 3 Gorontalo, kini tengah mengikuti kuliah di jurusan psikologi UI. Penerimaan para peraih medali emas internasional ini, tentunya harus dibarengi pula dengan tes kompetensi.

Bagi peserta didik, O2SN sangat bermanfaat. “Dengan adanya kegiatan ini akan muncul sikap sportivitas, fair play, dan menumbuhkembangkan gemar berolahraga. Harapan kami untuk tahun-tahun berikutnya O2SN tetap dijalankan, karena hal ini erat kaitanya dengan kepribadian dan perilaku,” tambah Alex.

Cabang olahraga yang dipertandingkan di O2SN 2009 kali ini terdiri dari, bulutangkis dengan nomor tunggal putra dan tunggal putri, tennis meja perorangan tunggal putra dan tunggal putrid. Karate kata putra, dan kumite kelas minus 61 putra plus 61 putra, dan kumite minus 53 putri serta plus 53 putri.

Selanjutnya ada pencak silat tunggal putra dan tunggal putri, tanding kelas B Putra kelas B putri, tanding kelas F putra kelas F putri. Yang terakhir atletik dengan nomor-nomor lari 100 meter putra, lari 100 meter putri, lompat jauh putra, lompat jauh putri, loncat tinggi putra dan loncat tinggi putri.

Dalam pejelasannya Alex mengungkapkan, pada dasarnya penyelenggaraan O2SN ini di samping mencari bibit-bibit unggul dalam bidang olahraga juga menumbuhkan minat siswa untuk selalu mencintai olahraga. Sebab seperti kata pepatah mensana in copore sano, dalam jiwa yang sehat terdapat pula tubuh yang sehat, adalah impian semua manusia. Hidup sehat lebih berharga dari apa pun yang kita miliki di dunia ini. Fanny

Potensi Volume XI No. 3, Mei-Juni 2009

Sumber: Potensi


Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Meriah dan Lancar

Pelaksanaan Kegiatan Seleksi O2SN Provinsi Maluku Utara


Laporan: Drs. Eddy Purwanto
Kegiatan seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional di Provinsi Maluku Utara, telah berlangsung tertib dan lancar. Kegiatan lomba Karate dan Pencak Silat di Aula SMAN 4 Ternate, Atletik di Gelora Kie Raha, Tenis Meja di Aula SMPN 7 Ternate, dan Bulu Tangkis di Aula SMKN 2 Ternate. Adapun susunan kepanitiaan terdiri dari, Drs. H.Yunus Namsa, M.Si sebagai pengarah, panitia pelaksana ketua/anggota Djafar Hi Himisi, SIP, M.Si, Talib Abas, SIP Sekretaris/anggota, dan Rosmala Kattang, SE sebagai bendahara.

Seleksi O2SN di Maluku Utara ini merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan di bidang olahraga untuk Sekolah Menengah Atas. Kegiatan tersebut mengacu pada 3 pilar, Pertama Pemerataan dan Perluasan Akses Pendidikan, Kedua Peningkatan Mutu, Revelansi dan Daya Saing, sedang ketiga Penguatan Tata Kelola Akuntabilitas dan Pencitraan Publik.
Tujuan diadakannya seleksi O2SN di Maluku Utara, untuk menyamakan persepsi para penyelenggara di kabupaten/kota, provinsi, dan nasional. Di samping itu juga untuk memberikan arahan kepada penyelenggara kegiatan dalam melaksanakan tugas kepanitiaan, sehingga kegiatan O2SN 2009 ini bisa terselenggara dengan baik.

Kegiatan O2SN tingkat SMA Provinsi Maluku Utara, dilaksanakan selama 4 hari, yaitu tanggal 22 hingga 25 Mei 2009 di Ternate. Kegiatan ini diikuti oleh para perwakilan juara di tingkat Kabupaten Kota untuk 5 cabang olah raga, yaitu atletik, bulu tangkis, pencak silat, dan tenis meja. Dewan juri berasal dari Pengda PASI (10 orang), IPSI (16 orang), FORKI (12 orang), PBSI (9 orang), dan PTMSI (9 orang) Maluku Utara. Kriteria untuk para juri adalah pengurus yang sudah mendapat rekomendasi dari Pemda masing-masing. Sedangkan untuk pelaksanaan lomba merujuk pada aturan masing-masing cabang olahraga yang dilombakan.

Susunan acara pembukaan yaitu laporan ketua panitia, sambutan Gubernur Maluku Utara yang disampaikan oleh Wakil Gubernur H. Abdulgani Kasuba Lc. yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan O2SN SMA tingkat provinsi Maluku Utara, pembacaan doa, dan penutup dilanjutkan dengan atraksi karate dan pencak silat.

Diharapkan dari hasil lomba muncul atlit-atlit potensial yang bisa berlaga di ajang olimpiade olahraga tingkat nasional maupun internasional.

Sumber: Potensi


Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Sabtu, Mei 30, 2009

Alvin Adam

Dampingi Anak Menonton Tayangan Televisi


Presenter program talkshow di salah satu stasiun televisi ini, belakangan sering menyoroti maraknya informasi negatif yang tersebar di berbagai media tentang kenakalan remaja. Seperti tawuran antar pelajar, kekerasan di sekolah, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Informasi-informasi yang ditampilkan bahkan beredar dari hasil rekaman video yang sudah tersebar luas, lalu ditayangkan di televisi, koran, dan internet. Menurut Alvin, Informasi mengenai remaja diberbagai media masih kurang memperhatikan faktor keseimbangan informasi. Media harusnya tidak selalu menampilkan masalah kenakalan remaja saja, karena di sisi lain banyak siswa-siswa Indonesia berprestasi bahkan sampai ke tingkat dunia yang kurang mendapat sorotan. Padahal informasi ini jauh lebih penting terutama dalam meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.

“Publikasi media terhadap hal-hal positif yang dilakukan remaja sebetulnya bukan tidak ada, hanya saja porsinya sedikit dan tidak masuk dalam skala prioritas.” Ujar Alvin. “Karena dari sekian banyak media elektronik khususnya televisi di Indonesia mempunyai spesifikasi tertentu dalam menayangkan sebuah program. Kebetulan TV tempat saya bernaung sangat konsen terhadap hal ini, karena kita menganggap siswa-siswa berprestasi itu adalah tunas bangsa yang harus kita hargai. Barangkali televisi yang sifatnya entertainment arahnya nggak kesitu.” Ungkap Presenter Just Alvin yang tayang di Metro TV ini.

Tak bisa dipungkiri, kata Alvin, fenomena yang berkembang saat ini memang remaja lebih tertarik melihat acara-acara kontes idola yang lebih dikenal dengan bakat nyanyi, akting, dan sebagainya. Ketimbang menonton acara cepat tepat atau cerdas cermat tingkat SMA atau acara-acara kontes olimpiade dan sejenisnya yang sarat ilmu pengetahuan.
“Nah, disinilah tugas para awak media dalam menyikapi hal tersebut. Media harus pintar-pintar mengemas sebuah acara yang sifatnya formal agar bisa dibuat lebih ringan, sehingga penonton lebih enjoy menikmatinya. Misalkan, pada saat olimpiade di luar negeri ada host anchor yang bisa langsung melaporkan bagaimana susahnya mereka berkutat dengan soal-soal olimpiade, lalu diinformasikan dengan suatu kemasan yang unik dan up to date. Saya pikir, anak-anak Indonesia pasti tertarik untuk menonton.” Saran Alvin.

Pria kelahiran Medan, 16 Juni 1971 ini sudah 20 tahun malang melintang di dunia entertainment sebagai model iklan, bintang sinetron, film, dan presenter. Ia juga menilai masih banyak tayangan-tayangan entertainment yang minim nilai edukasinya. Mulai dari sinetron, infotainment, bahkan sekarang marak bermunculan reality show yang menurut Alvin tidak ada manfaatnya untuk ditonton. Padahal banyak sekali kontribusi yang bisa diberikan media dalam bidang pendidikan lewat tayangan-tayangan yang sarat edukasinya. “Buat saya hidup itu singkat. Jangan buat sesuatu yang membuat hidup tidak berharga dalam waktu yang singkat. Mungkin orang bisa saja menghabiskan waktunya dengan menonton tayangan-tayangan yang ringan, asik, humoris, tapi nggak ada nilai edukasinya sama sekali. Nah, kita sebagai penonton harus pintar-pintar menyaring tayangan yang ingin ditonton. Kalau dibilang tayangan-tayangan sekarang mengikuti trend atau modernisasi, nggak juga dong, apakah akulturasi atau suatu kemajuan itu harus seperti itu? Apalagi harus mengesampingkan nilai-nilai edukasi. Karena kita juga punya kultur yang mengatur untuk tidak seperti itu. Kalau dibilang film-film sekarang sudah melalui badan sensor, tapi tetap aja meleset dari value education. Menurut saya yang pantas menjadi sensor adalah diri kita sendiri, orang tua terhadap tontonan anak-anaknya, dan remaja yang menyikapi tontonan itu seperti apa. Mau dibawa kemana pesan-pesan yang didapat dari tontonan itu.” Jelas Alvin.

Mengomentari pendidikan Indonesia saat ini, menurut Alvin yang paling penting diperhatikan adalah infrastruktur dan sistem pendidikannya. Jangan terlalu sering merubah kurikulum yang dapat membingungkan para siswa. Sebelum ingin membangun sekolah bertaraf internasional dengan spesifikasi bangunan yang juga sama seperti di luar negeri, harus diperhatikan juga masih banyak sekolah-sekolah di pelosok Indonesia yang atapnya bocor dan bangunannya yang rapuh. Selain itu, standar pendidikan yang semakin tinggi sepertinya sudah ‘harga mati’ dari pemerintah. Tidak perlu kita harus menolak dengan menggelar demo, ancaman, dan sebagainya. Toh, tidak didengarkan juga oleh pemerintah. Sudah saatnya kita menyikapi hal ini dengan bijaksana, terutama para orang tua dan siswa. “Seperti saya dulu, kebetulan orang tua saya adalah dosen, beliau sangat memperhatikan soal pendidikan anak-anaknya. Saya kelas 1 SD sudah diajarkan oleh ayah saya mata pelajaran kelas 2 dan 3 SD. Alhamdulillah di sekolah saya selalu jadi juara umum, karena penguasaan ilmu saya sudah lebih dibandingkan teman-teman saya. Terhadap anak-anak saya, juga saya terapkan seperti itu. Dirumah saya dan anak-anak saya selalu practise dwi bahasa, Inggris, China, dan Indonesia. Anak saya yang umur 4 tahun sudah mulai saya kenalkan komputer. Jadi, menurut saya kita sebagai orang tua harus sudah mulai sadar ke arah itu. Mungkin dengan begitu, paling tidak bisa sedikit membantu program pemerintah untuk meningkatkan standar pendidikan tadi. Dari pada harus mencela, lebih baik berbuat.” Tutur pemain film Ca Bau Kan dan Berbagi Suami ini. (rinda)

Sumber: Potensi



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP