Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Debat Capres 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debat Capres 2009. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 26, 2009

Aviliani: Saya Dilarang Mendebat Capres

Jumat, 26 Juni 2009 | 13:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam menjalankan tugasnya sebagai moderator debat capres tadi malam, Aviliani mengaku mendapat larangan dari salah satu tim sukses capres/cawapres untuk mendebat para kandidat tersebut.

"Dari KPU memberikan kelonggaran yang seluas-luasnya, dari tim sukses yang melarang saya. Larangan itu berasal dari salah satu tim sukses, yang lainnya mempersilakan saja," ujar dia di Jakarta, Jumat (26/6).

Alasan mereka, lanjut Aviliani, ditakutkan moderator berpihak kepada salah satu capres. "Bisa juga mereka khawatir kalau moderator terlalu mendebat dan capres tersebut tidak bisa menjawab, pamor capres tersebut akan turun," tuturnya.

Hal tersebut sebenarnya telah ia siasati dengan memaparkan data-data dan angka pada awal acara. Namun, menurutnya, taktik tersebut kurang berhasil karena jawaban para capres terlalu sistematik dan tidak berani menyebutkan angka.

Ia juga merasa kurang puas dengan performa pada kandidat tadi malam. Menurutnya, ketiga capres tidak memberikan pemaparan program mereka untuk masa depan. "Mereka hanya menjelaskan keberhasilan yang telah dicapai pada masa lalu. Jawaban mereka juga terlalu berhati-hati, padahal 15 menit sebelum acara dimulai sudah saya briefing agar jawaban mereka to the point saja," katanya.

Lebih jauh Aviliani berpendapat, kehati-hatian para capres bisa juga disebabkan karena mereka takut salah ucap. "Mereka juga takut pada penilaian orang timur, yang akan beranggapan buruk pada orang yang terlalu mendebat," ujar dia.

RDI

Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Jumat, Juni 19, 2009

Kualitas Debat Capres Dinilai di Bawah Standar



Kamis, 18 Juni 2009 | 20:45 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Setengah perjalanan debat capres yang akan berlangsung selama lebih kurang dua jam, memancing komentar para pengamat politik. Pengamat politik yang juga peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, menilai kualitas debat capres pertama ini di bawah standar.

"Secara umum, kualitas debat malam ini yang dipertontonkan ketiga capres di bawah standar. Ketiga capres lebih banyak bicara visi, tapi miskin agenda," kata Burhanuddin, dalam pesan singkatnya kepada Kompas.com, Kamis (18/6) malam.
Ketiga capres, menurutnya, lebih banyak membuat rentetan daftar keinginannya dan kurang mengelaborasi aspek-aspek teknis. "Bagaimana cara dan langkah-langkah konkret untuk mencapai good governance tidak disampaikan," ujarnya.

Pertanyaan yang diajukan moderator, Anis Baswedan, juga mendapatkan catatan. Pertanyaan mengenai sistem pertahanan dan alutsista dinilai out of context dengan tema debat "Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih serta menegakkan supremasi hukum".

Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Pengamat: Debat Capres Tidak Ada Gunanya


Kamis, 18 Juni 2009 | 22:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksanaan debat capres seperti yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang digelar Kamis (18/6) malam ini, dinilai tidak akan memengaruhi pemilih untuk memberikan suaranya. Hal tersebut disampaikan pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris, saat Nonton Bareng Debat Capres Bersama Pengamat, di Media Center KPU, Jakarta.

"Ini tidak ada gunanya. Karena pendukung masing-masing capres ini sudah menetapkan pilihannya masing-masing. Jadi tidak akan berubah setelah nonton debat ini," kata Syamsuddin.

Kendati demikian, lanjut Syamsuddin, ada kelas pemilih pengambang (swing voter) yang masih bisa berubah pilihannya. Namun, golongan ini terbilang sedikit dan dinilai tidak akan memberikan perubahan suara yang signifikan.

"Dalam aktivitas kampanye yang waktunya pendek ini yang mudah berubah hanya swing voter yang terdiri dari pemilih menengah. Kalau di level bawah apa pun yang diomongkan capres, tidak berpengaruh," tuturnya.

Hal senada disampaikan Direktur Pusat Kajian Politik UI Sri Budi Eko Wardani. Menurutnya, saat ini pemilih telah memantapkan pilihannya dalam pilpres mendatang. Diperkirakan, hanya sekitar 20 persen pemilih di masing-masing kandidat masih bisa berubah pilihannya.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Mega Kurang Siap, SBY Lumayan, JK Kurang Data


Kamis, 18 Juni 2009 | 21:08 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

JAKARTA, KOMPAS.com — Permasalahan jatuhnya alat utama sistem persenjataan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia secara beruntun menjadi salah satu pertanyaan yang diberikan moderator Anies Bawesdan kepada tiga pasangan kandidat dalam debat capres, Kamis (18/6) malam ini.

Direktur Pusat Kajian Politik UI Sri Budi Eko wardani menanggapi jawaban yang diberikan ketiga pasangan capres. Menurutnya, Mega kurang siap dalam memberikan jawaban karena tidak menyertakan data yang jelas. "Kayaknya Mega kurang diberi masukan oleh tim kampanye-nya tentang alutsista. Mega menyebut data tetapi tidak jelas," ujarnya.

Di tempat yang sama, pengamat politik Syamsuddin Haris menilai jawaban SBY lumayan karena dilengkapi dengan data-data penunjang. Dalam jawabannya, SBY menyebut anggaran alutsista yang dapat dipenuhi saat ini hanya Rp 35 triliun, padahal dibutuhkan sekitar Rp 120 triliun untuk alutsista. SBY juga berjanji akan meningkatkan anggaran alutsista.

"Yang agak lumayan jawabannya Pak SBY, ada angka. Tetapi dia (SBY) tidak jelas kapan itu dapat dipenuhi. Pada tahun keberapa, apa satu tahun, tiga tahun masa pemerintahannya. Itu kapan tidak disebut," paparnya.

Adapun jawaban yang diberikan JK dinilai kurang memuaskan karena tidak didukung data. "Tidak didukung data. Tetapi poin plus Pak JK itu ada. Masalah membangun senjata di dalam negeri. Ini solusi untuuk mengatasi anggaran yang terbatas," tegasnya.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Pengamat: Sikap Megawati Akan Merugikan



Kamis, 18 Juni 2009 | 22:32 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

JAKARTA, KOMPAS.com — Tiga pasangan capres bertemu muka di Studio Trans TV dalam debat capres yang digelar Komisi Pemilihan Umum bekerja sama dengan sejumlah stasiun televisi, Kamis (18/6) malam ini. Seperti beberapa pertemuan sebelumnya, sikap capres Megawati juga masih terbilang dingin terhadap SBY.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardani menilai, sikap Megawati itu justru akan merugikan dirinya sendiri. "Kita sayangkan sikap Bu Mega yang belum welcome dengan Pak SBY. Sebab, itu juga akan dinilai publik. Bangsa ini akan menilai yang layak menjadi pemimpin adalah yang bisa saling memaafkan. Tidak menyimpan dendam," kata perempuan yang akrab dipanggil Dani ini, saat Nonton Bareng, di Media Center KPU, Jakarta, Kamis (18/6).

Dalam debat malam ini, Megawati tiba paling akhir dibandingkan SBY dan JK. Begitu Mega tiba di ruang VIP, SBY mengangkat tangan dan memberikan salam kepada Mega dari kejauhan. Namun, Mega mengacuhkan salam SBY tersebut dan terlihat cuek.
Menanggapi hal itu, Dani mengatakan, seorang pemimpin atau elite politik bisa saja berbeda ideologi dan pandangan politik. Namun, hal itu tidak boleh berdampak pada hubungan personal.

"Itu sudah disetujukan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan tokoh Masyumi dan PKI di panggung politik bertolak belakang, tetapi dalam pertemanan terlihat baik-baik saja," tegasnya.

Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

"Closing Statement": Mega Terserah Rakyat, SBY Berpantun, JK "Jualan"



Kamis, 18 Juni 2009 | 21:55 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Para capres, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla memilih cara yang berbeda untuk menyampaikan closing statement (pernyataan penutup). Capres Golkar-Hanura, Jusuf Kalla, memberikan closing statement yang mengundang tawa dan tetap menyelipkan 'jualan' slogannya, "Lebih cepat lebih baik". Apa kata JK?

"Kalau Pak SBY sebelumnya melanjutkan pemerintahan Ibu Mega, maka saya kalau nanti terpilih akan melanjutkan Pak SBY dengan lebih cepat lebih baik," kata JK, disambut tawa para undangan Debat Capres, di studio Trans TV, Jakarta, Kamis (18/6) malam.

Berbeda dengan JK, Mega menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada pilihan rakyat. "Setelah melihat kami bertiga, rakyat bisa menentukan pilihannya," ujar Mega seraya menambahkan bahwa ia dan Prabowo akan berjuang untuk rakyat.

Sedangkan calon incumbent, SBY, memilih membacakan sebuah pantun untuk menutup presentasinya. "Dari Lahat berkunjung ke Martapura, meskipun kita berdebat, kita tetap bersaudara," ucap SBY sambil tersenyum.


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Massa di Luar Studio Riuh Sambut Pidato Mega



Kamis, 18 Juni 2009 | 20:49 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Hindra

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbeda dengan suasana di dalam Studio I Trans TV, yang menjadi tempat debat calon presiden putaran pertama, Kamis (18/6) malam, yang cukup tegang, kondisi di luar studio begitu hidup.

Megawati Soekarno Putri
Jika di dalam studio moderator Anies Baswedan mengimbau audiens agar bertepuk tangan setelah seorang capres menyelesaikan jawabannya, massa di luar studio bertepuk tangan kapan saja.

Respons yang heboh selalu terjadi ketika capres Megawati Soekarnoputri berbicara, baik itu memaparkan visi-misi dan program kerja, maupun menjawab pertanyaan Anies. Maklum, sebagian besar massa yang berada di luar studio merupakan pendukung Mega-Pro. Bahkan, beberapa kali mereka meneriakkan "Mega-Pro!", dan disambut tepuk tangan dan canda tawa.

Terutama ketika Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengkritisi pungutan liar dalam pengurusan KTP. Hingga saat ini, massa Mega-Pro masih memadati halaman parkir Gedung Trans TV.

Kendati angin terkadang berembus cukup keras, mereka tetap setia menyimak jalannya debat capres. Belasan aparat keamanan dan satuan pengamanan Trans TV tampak berjaga-jaga di sekitar halaman parkir.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

RUU Tipikor, Pertanyaan Mudah bagi SBY


Kamis, 18 Juni 2009 | 20:44 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

JAKARTA, KOMPAS.com — Debat capres yang berlangsung Kamis (18/6) mulai memasuki sesi kedua. Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan yang bertindak sebagai moderator, mulai melontarkan pertanyaan kepada tiga pasang kandidat.
Pertanyaan pertama mengenai penyelesaian RUU Tipikor dijawab lancar oleh semua pasangan calon.

Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardani mengatakan, terkait RUU Tipikor merupakan hal yang mudah bagi capres SBY. Sebagai incumbent, SBY diuntungkan karena mempunyai komunikasi secara intensif dengan DPR sehingga dapat menjawab secara padat.

"Itu buat SBY jawaban yang mudah karena mempunyai komunikasi dengan DPR," ujar perempuan yang akrab dipanggil Dani ini, saat Nonton Bareng, di Media Center KPU, Jakarta, Kamis (18/6).

Dani menyayangkan jawaban yang diberikan oleh capres Megawati yang dinilai kurang tegas dan menekan lawan politiknya. "Mega sayangnya tidak bisa menekan. Seharusnya Mega bilang, 'Kalau tidak segera dituntaskan, saya yang menuntaskan'," tegas perempuan berjilbab ini.


Sumber: Kompas

Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Pendukung Mega-Pro pada Debat Capres Terbanyak

Hindra Liu

Kamis, 18 Juni 2009 | 20:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Massa pendukung pasangan capres-cawapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto merupakan yang terbanyak dibandingkan massa pasangan lainnya.

Pantauan Kompas.com, massa Mega-Pro yang menamakan Gardu atau Gabungan Rakyat Dukung Merah Putih untuk Indonesia meluber hingga di depan lobi Gedung Trans TV, yang menjadi tuan rumah debat presiden putaran pertama, dan juga di luar gedung stasiun televisi nasional tersebut.

Sedangkan massa dua pasangan capres-cawapres lainnya, SBY-Boediono dan M Jusuf Kalla-Wiranto, hanya tampak beberapa orang.

Massa Mega-Pro, yang memakai kaus maupun kemeja bercorak merah dan putih, berasal dari lima penjuru Jakarta, mulai dari Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat.

Beberapa mengaku datang karena diboyong kader partai, sementara beberapa lainnya berinisiatif datang sendiri. "Ada bus yang antar kami ke sini," ujar Tika, warga Cinere, Jakarta Selatan.

Dwi, pendukung Mega-Pro yang lain, mengaku datang atas inisiatif sendiri. "Saya mau melihat Bu Mega dan Pak Prabowo langsung," ujar warga Cilandak ini.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Tiga Kandidat Hanya Mengulang yang Sudah Sering Disampaikan




Kamis, 18 Juni 2009 | 20:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemaparan visi, misi, dan strategi tiga pasangan calon presiden yang disampaikan dalam debat capres perdana, Kamis (18/6) malam ini, dinilai hanya mengulang hal-hal yang sudah sering disampaikan oleh tiga kandidat kepada publik sebelumnya.

Megawati Soekarnoputri,
Susilo Bambang Yudhoyono,
Jusuf Kalla.


Hal tersebut disampaikan pengamat politik dari LIPI, Syamsudin Haris, di sela Nonton Bareng Bersama Pengamat Politik, di Media Center KPU, Jakarta. "Kalau yang saya lihat sama dengan yang kita saksikan melalui media. Semua pasangan pada umumnya mengulang apa yang sudah dikemukakan," ujarnya, Kamis (18/6).

Selain itu, Syamsuddin juga menyebut, tiga kandidat tidak mempunyai kerangka waktu untuk mewujudkan agenda kebijakannya. Padahal, hal ini dinilai penting bagi publik karena masyarakat dapat menagih janji tersebut bila kandidat terpilih nantinya.
"Tidak ada kerangka waktu dalam di proposal masing-masing. Tanpa timeline yang jelas, janji hanya sekadar janji," cetusnya.

Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Debat Capres: Gaya Beda, Isi Sama

Ilustrasi

Kamis, 18 Juni 2009 | 20:16 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Waktu 10 menit yang dialokasikan bagi masing-masing calon presiden, ternyata tak dihamburkan oleh tiga kandidat, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla. Sesi pertama Debat Capres memberikan kesempatan kepada ketiganya untuk menyampaikan pandangan mengenai "Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, serta menegakkan supremasi hukum".

Dalam pesan singkatnya kepada Kompas.com, pengamat komunikasi politik UGM, Nunung Prajarto, berpendapat tidak ada yang berbeda dari presentasi ketiga calon.
"Semua (calon) sama, tidak ada yang berbeda, tidak ada yang khas, dan tidak ada yang baru. Isinya nyaris sama, hanya dengan cara presentasi yang beda," kata Nunung, Kamis (18/6) malam, di sela berlangsungnya debat yang ditayangkan Trans TV.

Ditambahkannya, dengan isi yang nyaris sama, selling point masing-masing calon tidak terlalu memperlihatkan visi misi dan strategi yang akan dijalankan.
Mega dan JK memaparkan pandangannya tanpa memegang teks dan selembar kertas pun. Berbeda dengan SBY yang tampak mempersiapkan matang dengan berlembar-lembar kertas di tangannya.

Dari sisi alokasi waktu, menurut catatan, Mega dan SBY menyisakan 1 menit 30 detik dari alokasi waktu 10 menit. Sedangkan JK merasa puas memaparkan visi misinya dalam waktu 7 menit 30 detik dan menyisakan sekitar 2,5 menit.



Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Tanpa Saling Bertanya, Debat atau Lomba Pidato?

PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA
Capres-Cawapres


Kamis, 18 Juni 2009 | 18:44 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Dihapusnya sesi ketiga debat capres, di mana para calon dapat mengajukan pertanyaan satu sama lain, dinilai menghilangkan esensi debat itu sendiri. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, debat capres akan tak ubahnya seperti lomba pidato.

"Kalau KPU memutuskan menghapus sesi saling bertanya, sangat mengecewakan. Karena tak akan terjadi tukar-menukar kata antarcalon. Kalau itu yang terjadi, debatnya menjadi lomba berpidato," kata Burhanuddin, Kamis (18/6) malam, kepada Kompas.com.
Padahal, menurutnya, dengan saling mengajukan pertanyaan akan membuka kesempatan untuk saling berargumen. "Sama saja menghilangkan hak pemirsa untuk mendapatkan suguhan tontonan yang menarik. Kalau begini, kita tidak bisa berharap banyak debat yang hidup," ujarnya.

Sementara itu, pengamat komunikasi politik UGM, I Gusti Ngurah Putra, juga berpendapat, idealnya, terdapat sesi saling menguji pada debat capres. Namun, hal ini juga bisa membuat suasana debat menjadi liar.
"Padahal bisa sangat menarik kalau saling bertanya, tapi mungkin bisa juga liar dan ini yang tidak diinginkan KPU," kata Ngurah, secara terpisah.
KPU menghapuskan sesi saling bertanya setelah ketiga tim pasangan calon meminta agar sesi itu ditiadakan.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

SBY: Konsep Debat Tidak Harus Mirip AS



Kamis, 18/06/2009 22:47 WIB
Shohib Masykur - detikPemilu


Jakarta - Debat capres perdana malam ini dinilai baik oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut SBY, jalannya debat tidak harus saling menyerang seperti di Amerika Serikat (AS).

"Tidak seharusnya mirip di Amerisa serikat, karena ini adalah budaya kita," kata SBY usai debat di Studio Trans TV, Jl Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2009).

SBY menilai, konsep debat yang santun membuka wacana di masyarakat tentang sosok pemimpinnya. Solidaritas dan substansi masing-masing tetap bisa dijaga tanpa harus saling menyerang.

"Tidak harus seperti di luar negeri," tutupnya.

Seperti diketahui, acara debat yang disiarkan langsung di 3 stasiun TV swasta tersbebut berlangsung monoton. Tiga capres saling memberikan dukungan atas pendapat masing-masing terkait beberapa isu hangat nasional. Tidak seperti dalam kampanye terpisah, ketiganya justru saling menyerang.

( mad / gah )


Sumber: detikNews





Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

JK Minta Publik Untuk Menilai

Debat Capres I
Kamis, 18/06/2009 22:31 WIB
Shohib Masykur – detikPemilu

Jakarta - Calon Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta publik untuk menilai setiap pasangan capres yang tampil dalam debat perdana malam ini. Termasuk soal siapa capres yang lebih unggul.

"Masyarakat yang akan menilai," kata JK usai acara debat di Studio Trans TV, Jl Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2009).

JK juga menilai konsep acara debat sudah cukup baik. Tidak ada upaya dari para capres untuk saling menyerang dan menjatuhkan.

"Anda lihat sendiri kan, semuanya berjalan baik," ucapnya.

Senada dengan JK, cawapres SBY, Boediono juga menilai acara debat sudah berlangsung cukup baik. Sikap saling menghormati selama debat berlangsung, bisa jadi contoh budaya kepemimpinan yang santun.

"Pokoknya semuanya bagus," tegasnya.

( mad / gah )

Sumber: detikNews





Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Wah! Tak Terdengar "Panggilan Sayang" Mega untuk SBY



Kamis, 18 Juni 2009 | 22:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lebih dari dua jam, acara debat calon presiden berlangsung Kamis (18/6) malam ini. Masing-masing calon presiden, mulai dari Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla pun mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan visi misinya di awal acara.

Sesi awal ini berlangsung landai, hampir semua visi dan misi yang disampaikan pada kandidat pemimpin negeri tersebut sudah pernah didengar sebelumnya dalam berbagai kesempatan. Hanya Jusuf Kalla dengan pernyataan dan polahnya sesekali berhasil mengundang tawa penonton yang datang di Gedung Trans TV di kawasan Mampang, Jakarta.
Namun, suasana berubah menjadi lebih hangat saat moderator Anies Baswedan mulai mengutarakan satu pertanyaan untuk satu capres, sementara capres lain menanggapinya. Pertanyaan pertama diajukan kepada JK mengenai gagasannya untuk menghilangkan pungli di lingkungan birokrasi. Kemudian Megawati mendapat pertanyaan soal pembenahan masalah TKI. Dan, terakhir SBY mengenai penyelesaian kasus HAM.

Menarik disimak. Begitu Megawati selesai mengutarakan pendapat yang intinya menggarisbawahi pentingnya pembenahan masalah ketenagakerjaan dari dalam negeri, SBY mendapat kesempatan pertama untuk menanggapinya. "Saya setuju 200 persen dengan Ibu Mega. Karena permasalahan ketenagakerjaan memang harus mulai dibenahi dari dalam," kata SBY begitu mendapat kesempatan.

SBY tak sungkan menyapa dan menyebut nama "Ibu Mega". JK pun tak jauh berbeda, ia menyatakan kesepakatannya dengan Megawati. Bahkan, sekali ia sempat mengajak Megawati berdialog, soal 'memori' mereka saat masih bersama-sama di kabinet mengatasi masalah TKI di Nunukan, Kalimantan Timur. "Waktu itu saya Menko Kesra di bawah Ibu Mega," kata Jusuf Kalla. Kala pun beberapa kali menyapa SBY meski keduanya saling menyindir dalam berbagai kesempatan kampanye.

Namun, apa yang terjadi saat Megawati harus menanggapi jawaban SBY soal HAM? Megawati hanya berujar, "Ya, karena Pak JK mengatakan setuju, saya pun sebagai opisisi setuju." Baru kemudian ia mengungkapkan pandangannya.

Selama lebih dari dua jam acara debat berlangsung, tak ada satu pun sapaan Mega untuk SBY yang di zaman pemerintahannya selalu disapa dengan sebutan "Pak Bambang". Bahkan, sepanjang acara ini berlangsung, tak ada satu kali pun "panggilan sayang" itu diucapkan kembali oleh Mega. Tampaknya, kebekuan hubungan kedua tokoh ini tak juga kunjung cair.


Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Sesi 1, SBY Paling Banyak Lihat Contekan

Debat Capres 1
Kamis, 18/06/2009 20:28 WIB
Shohib Masykur – detikPemilu

Jakarta - Debat capres sesi 1 diisi dengan pemaparan visi-misi capres terkait tema debat, yakni tata kelola pemerintahan yang baik dan penegakan hukum. Dalam sesi ini, tampak SBY paling banyak 'nyontek'.

Pantauan detikcom, Kamis (18/6/2009), SBY yang mengenakan batik merah lengan panjang ini berkali-kali melongok catatan. Di tangannya tergenggam setidaknya 2 lembar kertas.

Dalam pemaparan visi misinya SBY juga yang paling kerap mengucapkan 'motto'-nya, yakni lanjutkan. Paling sedikit SBY menyebut kata lanjutkan, dan turunannya seperti melanjutkan, sebanyak 3 kali.

Ini lain dengan 2 capres lainnya. JK juga tampak beberapa kali menatap meja sebelum bicara. Namun tidak tampak secara mencolok catatan di tangannya, entah dia bawa atau tidak. Yang jelas kalaupun menyontek pastilah tidak sesering SBY. JK yang berjas dan berpeci hitam ini juga sama sekali tidak mengucapkan kalimat khasnya, lebih cepat lebih baik.

Sedangkan Megawati yang tampak kompak dengan SBY dalam berbusana lebih jarang lagi menyontek. Matanya tampak senantiasa tertuju ke depan. Seperti JK, tak tampak catatan di tangannya, entah dia bawa atau tidak. ( sho / gah )

Sumber: detikNews




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Tampak Akrab, Mega Hampiri SBY


Debat Capres
Kamis, 18/06/2009 18:55 WIB
Shohib Masykur - detikPemilu


Jakarta - Tidak seperti biasanya, Megawati tampak akrab dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat tiba di lokasi Depat Capres, Mega tampak menghampiri SBY yang datang lebih dulu di Trans TV, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2009).

SBY pun tampak menyambut uluran tangan Mega dengan tersenyum. Namun jabat tangan itu tetap berlangsung sangat singkat.

Setelah berjabatan, Mega langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Kebetulan, meski berjarak sekitar 50 cm, kursi tersebut bersebelahan dengan kursi SBY.

SBY yang mengenakan baju batik merah pun tampak tersenyum kepada Mega. Mega yang mengenakan baju merah membalas senyuman itu.

Sebelum Debat Capres dimulai, seluruh kontestan dikumpulkan dalam satu ruangan khusus. ( ken / iy )


Sumber: detikNews



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP