Kami Mengucapkan Terimakasih kepada Semua Pihak yang telah membantu Menyukseskan Perhelatan Akbar
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2009

di Jakarta 3 s.d. 9 Agustus 2009

Sampai Ketemu di OSN Tahun 2010 di Medan, Sumatera Utara

Headline News

NATIONAL NEWS

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Tampilkan postingan dengan label Guru Berprestasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Berprestasi. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 08, 2009

Guru Berperan Penting dalam Peningkatan Bahasa Indonesia


Senin, 11 Mei 2009 | 19:51 WIB

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com--Guru memiliki peran penting dalam peningkatan mutu berbahasa Indonesia di sekolah, karena siswa di luar lebih tertarik menggunakan bahasa gaul.

"Peran guru sangat dibutuhkan dalam membimbing siswa menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi bahasa gaul pun tidak bisa dilarang, asalkan tidak masuk dalam ranah kegiatan resmi," kata Ketua Bidang Pembinaan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Mustakim, di Bandarlampung, Senin.

Menyinggung seberapa besar pengaruh bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Indonesia, ia mengatakan, belum ada penelitian tentang hal itu.

Namun, bahasa gaul tidak bisa dilarang, karena itu tumbuh dan berkembang di masyarakat yang akan menjadi alat komunikasi efektif.

"Tetapi, itu akan luruh ketika para remaja khususnya pelajar dan mahasiswa masuk ke ranah pekerjaan, dan akan meninggalkannya. Jadi bahasa gaul tidak perlu dirisaukan," kata dia.

Mustakim menjelaskan, para pelajar dan mahasiswa ketika berbicara pada forum resmi, maka mereka pun meninggalkan bahasa gaul.

Terkait penggunaan bahasa asing dalam acara televisi, ia menegaskan, tidak ada pelarangan asalkan sesuai dengan kebutuhan dan penempatannnya.

"Kalau sasarannya jelas seperti untuk orang asing," kata dia, sebelum menjadi pembicara pada temu koordinasi lintas instansi dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Sementara itu, Asisten Bidang Umum Pemprov Lampung, Heru Karwadji mengatakan, pihaknya akan terus menggalakkan penggunaan bahasa Indonesia secara benar.

"Boleh menggunakan istilah asing, tetapi harus pada tempatnya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membudayakan penggunaan bahasa Indonesia," kata dia.


Sumber : Ant


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Beri Kepercayaan kepada Guru



Selasa, 12 Mei 2009 | 19:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Terselenggaranya pendidikan berkualitas dapat dicapai jika guru diberi kepercayaan yang semakin baik untuk melakukan tugas-tugas profesionalnya, termasuk mengevaluasi siswa. Untuk itu, intervensi yang perlu diberikan kepada guru adalah menciptakan iklim yang kondusif untuk menjadikan pendidik tersebut berkualitas dan profesional, bukan intervensi yang mengambil alih tugas akademik guru dalam evaluasi dan penilaian siswa di sekolah.

"Pada saat ujian nasional dan UASBN, guru dan kepala sekolah sering sangat tertekan. Apalagi proses akademik evaluasi itu dijaga ketat polisi dan pihak lain di luar sekolah. Semua pihak mesti melakukan upaya supaya kepercayaan kepada guru semakin baik," kata Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), di Jakarta, Selasa (12/5).

Guru, kata Sulistiyo, harus dapat bekerja dengan tenang dengan adanya iklim kerja yang kondusif. Bukan saja adanya perlindungan hukum, profesi, ketenangan, dan kesehatan kerja. Namun, juga tidak ada bentuk intervensi dalam pelaksanaan tugas akademik. "Karena itu, PGRI akan mencari tahu mengapa ada guru yang berusaha memberikan jawaban kepada siswa. Jangan-jangan itu karena 'dipaksa' oleh keadaan atau tim sukses. Itu tidak boleh dibiarkan terus-menerus," ujar Sulistiyo.

Sulistiyo menegaskan, dukungan pada sekolah dan guru hendaknya mengarah pada terwujudnya iklim kerja yang mampu memberdayakan potensi siswa dengan baik dan maksimalnya kinerja profesionalisme guru. Depdiknas dan dinas pendidikan harus bertanggung jawab terhadap terwujudnya manajemen berbasis sekolah yang berkualitas.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, untuk memperbaiki penyelenggaraan ujian nasional (UN) di level SMA yang dinilai perguruan tinggi masih belum bisa dipercayai kredibilitasnya, butuh proses. "Mesti dievaluasi betul di mana titik-titik lemah yang ditemukan perguruan tinggi. Tentu nanti diperbaiki, supaya hasil UN SMA bisa dipertimbangkan sebagai salah satu penilaian masuk ke perguruan tinggi negeri," kata Fasli.

ELN


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Tersedia, Rp 5 Juta bagi Setiap Guru SMA!


Selasa, 19 Mei 2009 | 11:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Yayasan Hope Indonesia didukung oleh Citi Peka (Peduli & Berkarya) tahun ini kembali memberikan dana sebesar 2 miliar rupiah bagi 100 orang guru SMA melalui program Citigroup Success Fund (CSF) 2009.

Hal tersebut diungkapkan oleh Semangat Sembiring, Direktur Program Pendidikan Yayasan Hope Indonesia, Selasa (19/5), di Jakarta. Semangat menuturkan, melalui program CSF ini, setiap tahun sejak 2003 Yayasan Hope Indonesia menggelontorkan dana untuk memilih 10 aktivitas terbaik ciptaan para guru dari 100 penerima dana. Tahun 2009 merupakan tahun ketujuh dilaksanakannya program tersebut.

"Ini merupakan program dukungan finansial kepada guru SMA untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar yang kreatif dan menyenangkan bagi para siswanya," kata Semangat. Semangat menambahkan, masing-masing guru itu akan menerima lima juta rupiah, sedangkan untuk sekolah sebesar 10 juta rupiah.

Semangat mengatakan, untuk mengikuti program ini para guru bisa mengirimkan proposalnya berupa konsep kegiatan belajar mengajar yang kreatif dan inovatif. Ada tiga bidang kegiatan yang persyaratan peserta. Pertama adalah aktivitas yang mempersiapkan kemandirian siswa untuk terjun ke masyarakat, baik itu semacam pelatihan ketrampilan, manajemen keuangan, atau bidang teknologi informasi dan lain-lainnya.

Kedua, aktivitas untuk menjembatani berbagai perbedaan SARA, gender, generasi, serta golongan, dan memelihara kepekaan sosial. Ketiga, aktivitas untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris. "Kami ingin program ini menjadikan suasana belajar yang selalu interaktif, kreatif dan menyenangkan baik bagi guru maupun siswanya," tandas Semangat.

Untuk periode 2009 ini, program CSF baru akan diluncurkan pada 28 Juli mendatang di Jakarta. Selain itu, secara spartan program juga diluncurkan di Bandung dan Bali pada 30 Juli, di Semarang dan Surabaya pada 4 Agustus, serta di Medan pada 6 Agustus.

Terbuka khusus bagi para guru SMA, baik dari sekolah negeri, swasta nasional plus, maupun swasta internasional yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, dan Bali. Para guru yang tertarik mendaftar bisa mengaksesnya di http://hopeindonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=27&Itemid=48, atau mendaftar langsung ke Yayasan HOPE Indonesia di 021-639 9266 atau fax 601 0570.

LTF


Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Tiga Guru Bahasa Sunda Dapat Penghargaan Hardjapamengkas

Jumat, 6 Maret 2009 | 19:34 WIB

BANDUNG, JUMAT - Sebanyak tiga guru pengajar bahasa Sunda di sekolah dasar dan menengah di Jawa Barat mendapat Hadiah Hardjapamekas 2009. Kriteria penjurian meliputi aspek didaktis metodis, aspek kreativitas pribadi, dan aspek peran sosial guru.

Hasil ini terungkap dalam pengumuman yang dilakukan Jumat (6/3) di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Ketiganya adalah Sri Asdianwati (30), guru bahasa Sunda SDN 1 Pakuwon, Garut, untuk kategori guru SD; Ai Koraliati (44), guru bahasa Sunda SMPN 1 Lembang, Bandung Barat, untuk kategori guru SMP; dan Darpan (39), guru bahasa Sunda SMAN 1 Tarogong, Garut, untuk kategori guru SMA.

Hadiah Hardjapamekas merupakan hadiah tahunan yang diberikan kepada guru bahasa Sunda sejak tahun 2008. Hadiah yang pelem bagaannya didukung oleh keluarga besar tokoh pendidikan alm. R.S. Hardjapamekas (1913-2005) ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage untuk mendorong kegiatan pengajaran bahasa Sunda di sekolah, baik di tingkat sekolah dasar maupun di tingkat sekolah menengah.

Keluarga R.S. Hardjapamekas dalam hal ini berperan sebagai pendukung komitmen mengenai pentingnya pengajaran bahasa daerah Sunda. "Kebetulan, ayah saya, almarhum R.S. Hardjapamekas kebetulan adalah guru bahasa," ujar Erry Ryana Hardjapamekas, putera ke-5 dari enam bersaudara, mewakili keluarga besar alm. R.S. Hardjapamekas.


Cornelius Helmy Herlambang

Sumber: Kompas




Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Tin Mulyawati, Atasi Sulitnya Kimia dengan Biji Sempoa

Guru


Selasa, 19 Mei 2009 | 15:03 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Prihatin terhadap nilai kimia para siswanya yang di bawah standar akibat kurang aktif belejar, Tin Mulyawati merancang metode baru belajar kimia berupa 'Pengisian Konfigurasi Elektron Menggunakan Biji Sempoa'. Hasilnya, 99 persen siswa lebih aktif belajar.

Awalnya, Tin Mulyawati, SPd merasakan bahwa besar kemungkinan para siswa tersebut menganggap kimia adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Tin menambahkan, kebetulan materi pelajaran kimia di semester satu kelas X yang diasuhnya itu banyak berupa teori dan abstrak. Materi tentang struktur atom, misalnya.

Alhasil, konsep pembelajarannya terkesan monoton. "Siswa sulit membayangkan bagaimana itu atom dan hal itu menyebabkan siswa tidak dapat menyerap pelajaran secara maksimal," kata guru pelajaran kimia di SMA Negeri 25, Bandung, ini.

Mulailah, Tin membuat suatu bagan 'Konfigurasi Elektron Menggunakan Biji Sempoa', yaitu sebuah alat peraga berupa diagram mnemonik Moeller yang menggunakan biji sempoa.

Pada diagram itu, Tin menganalogikan biji-biji sempoa sebagai elektron. Konfigurasi biji sempoa atau elektron tersebut ditentukan oleh jumlah elektron itu sendiri, yang bergerak mengelilingi inti pada lintasan sesuai tingkat energinya.

"Hasilnya, pada saat pelajaran berlangsung 99 persen siswa aktif berinteraksi baik dengan guru atau dengan sesama siswa lainnya," ujar Tin. "Padahal sebelumnya, dari 8 kelas rata-rata hanya 17 persen siswa yang aktif mengikuti pelajaran kimia ini," tandas Tin.

Di mata para siswa, metode tersebut pun diakui sangat membawa perubahan. Ganjar, siswa Kelas X C SMA Negeri 25, Bandung, misalnya, mengaku bahwa konsep belajar praktik tersebut ternyata lebih mudah dimengerti daripada membaca atau menghafalnya dalam bentuk teori. "Apalagi alat peraga ini bisa dibawa ke mana-mana," kata Ganjar.

Pendapat senada dilontarkan oleh Lira Mayora, siswi Kelas X-A di sekolah yang sama. "Kita tidak merasa bosan dan malas, karena cara ini terus membuat kita selalu aktif dan komunikatif," kata Lira.

Penghargaan CSF 2007

Lahir di Bandung, 26 November 1968, Tin Mulyawati, SPd merupakan anak ke-10 dari 11 bersaudara. Meskipun mengakui Matematika adalah pelajaran yang paling disukainya, Tin justru memilih jurusan kimia saat dirinya mengenyam pendidikan tinggi di Diploma III Kimia ITB, Bandung. Tin memperoleh jurusan tersebut melalui jalur PMDK III dan lulus pada 1990.

Lulusan SMA Negeri 14 Bandung ini lalu melanjutkan studinya di Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan IPA Kimia, Universitas Terbuka. Hanya empat tahun. yaitu pada 1994, Tin lulus dan meraih gelar sarjananya.

Berpredikat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Tin mengajar di SMA Negeri 25 Bandung. Saat ini, selain di SMAN 25 Bandung, ibu berputra dua ini juga mengajar kimia di SMA Taruna Bakti sebagai guru lab kimia, tutor kimia di lembaga bimbingan belajar SSC Bandung, serta staf pengajar kimia di SMA unggulan Alfa Centauri Bandung.

Demi menunjang profesinya sebagai guru, Tin banyak mengikuti berbagai pelatihan, mulai Sanggar Pemantapan Kerja Guru (SPKG), Pemantapan Kerja Guru (PKG), Musyawarah Kerja Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia, kaizen kimia, serta seminar-seminar, lokakarya ataupun workshop berkaitan dengan peningkatan profesionalismenya.

Sampai akhirnya, pada 2007 Tin mengajukan proposal hasil rancangannya berjudul "Pengisian Konfigurasi Elektron Menggunakan Biji Sempoa" ke Yayasan Hope Indonesia. Pengajuan tersebut adalah untuk mengikuti pemilihan aktivitas terbaik para guru melalui program 'Citi Success Program (CSF) 2007'. Hasilnya, Tin terpilih sebagai guru dengan aktivitas terbaik dari CSF 2007.

"Selain memudahkan siswa memahami cara pengisian konfigurasi elektron, alat peraga ini terbukti mampu meningkatkan interaksi antarsiswa dengan guru sehingga tercipta pembelajaran yang aktif dan menyenangkan," kata Tin. "Bagi sekolah, program ini semoga bisa bermanfaat sebagai inventarisasi baru alat-alat peraga IPA yang berguna bagi siswa-siswi lain tentunya," tambahnya.

LTF

Sumber: Kompas



Bookmark and Share


Klik selengkapnya...

Blogger template 'Purple Mania' by Ourblogtemplates.com 2008

Jump to TOP